Penghakiman
Pokok Ajaran di Eden
Sunday, 19 November 2006

Tiada seorang pun yang menduga bahwa kedatangan Malaikat Jibril pada saat ini adalah melakukan penggenapan-penggenapan atas nubuah Tuhan di dalam Kitab-kitab Suci-Nya. Ketika Tuhan menyatakan di dalam Kitab Suci-Nya tentang kejadian hari akhir berupa bencana-bencana, kebangkitan ruh-ruh suci, penghakiman Tuhan, dan serta penempatan di surga dan neraka; sebagian besar pemuka agama dan manusia mengira bahwa semua itu akan terjadi pada suatu masa nanti di tempat yang tidak diketahui.

Ternyata Malaikat Jibril menjelaskan di Eden bahwa semua nubuah itu terjadinya di bumi ini. Dan penjelasan tentang semua itu ada pada Malaikat Jibril yang juga sedang membawakan takdir Imam Mahdi dan kebangkitan Yesus di akhir zaman. 

Malaikat Jibril menyatakan, saat inilah masa penghakiman Tuhan yang dipimpin oleh Jibril di mana banyak bencana-bencana alam yang terjadi di seluruh dunia. Inilah masa Tuhan membangkitkan ruh-ruh manusia serta membalaskan ganjaran atas ruh-ruh itu dengan dengan surga dan neraka.

Sungguh tiada pernah kaum Eden menduga bahwa penghakiman Tuhan terhadap seluruh perbuatan dosa maupun pahala manusia dilakukan di bumi di dalam kehidupan dunia saat ini. Pengajaran agama yang diterima dari para guru agama umumnya selalu mengajarkan bahwa timbangan amal perbuatan manusia akan diadili Tuhan pada suatu saat nanti setelah hari kiamat, setelah semua manusia mati dan dibangkitkan Tuhan di Padang Mahsyar. 

Pada saat pengadilan Tuhan itu digelar, pada saat itu semua kesalahan manusia ditampakkan. Seluruh organ-organ tubuh berbicara sendiri tentang dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Dan seluruh manusia dapat melihat dosa yang ditayangkan itu. Itulah pemahaman tentang pengadilan Tuhan sebagaimana yang diajarkan oleh para guru agama pada umumnya.

Ketika Malaikat Jibril menjelaskan bahwa keadaan mahsyar (padang berkumpul di hari berbangkit) itu sebenarnya adalah nubuah untuk globalisasi pada saat ini, sungguh bukan main terkejutnya kaum Eden. Apalagi ketika Malaikat Jibril menyatakan bahwa pada saat inilah Tuhan membangkitkan seluruh ruh dari zaman dahulu kala dan Tuhan mengumpulkan ruh-ruh itu pada saat ini .

Saat inilah –masa globalisasi dan kedatangan Jibril– yang dinyatakan Malaikat Jibril sebagai hari pengadilan Tuhan. Dan tempat pengadilan Tuhan itu bukan di alam akhirat atau di dunia antah berantah yang tak diketahui manusia, melainkan di bumi yang ditempati manusia pada saat ini.

Sungguh sulit bagi kaum Eden untuk menerima penjelasan ini karena sesungguhnya telah berakar kuat di dalam pemahaman kaum Eden yang berlatar belakang Islam bahwa penghakiman Tuhan dan mahsyar itu terjadinya setelah kematian/kiamat, bukan saat di dalam kehidupan ini. Sesungguhnya Regulasi Ruh yang dijelaskan kepada kaum Eden oleh Malaikat Jibril-lah yang menjadi titik pangkal berubahnya pemahaman kaum Eden terhadap doktrin-doktrin keimanan kaum Eden terhadap kehidupan akhirat semisal kiamat, penghakiman, surga, neraka.

Demikianlah, Malaikat Jibril menjelaskan selintas tentang Mahsyar dan Lauhul Mahfudz yang termaktub di dalam Kitab Kehidupan: 

“Visi para Nabi belum sampai, maka terpaksa kami (malaikat) mengemasnya dalam kalimat-kalimat sinonim yang terbaca janggal karena tersendiri, tetapi terfokus dari masa ke masa. Tapi rahasia itu akan terbuka bila telah sampai waktunya. Para nabi di zaman yang sederhana dahulu belum dapat menjangkau visi sejauh temuan-temuan teknologi canggih manusia di zaman modern ini. Tentulah dia menggunakan sebuah ungkapan kalimat yang memadankan keadaan itu. Demikian keadaan saat ini ditayangkan di dalam panorama kalimat Padang Mahsyar dan Lauhul Mahfudz, shirathal mustaqim, surga dan neraka. 

Malaikat Jibril mengajarkan, panorama surga dan neraka yang digambarkan secara fisik di dalam kitab-kitab suci sesungguhnya tiada terjadi setelah kiamat atau di suatu tempat antah berantah. Sesungguhnya keadaan surga, neraka dan pengadilan-Nya itu dihadirkan di dunia, termasuk titian shirathal mustaqim. Siapa-siapa yang dapat meniti titian shirathal mustaqim (jalan yang lurus) maka dia akan akan sampai ke surga. Siapa-siapa yang di dalam kehidupannya senantiasa berbuat baik menjauhi segala dosa kecil mapun besar, lahir maupun batin dan senantiasa mensucikan dirinya terus menerus, maka mereka itulah orang-orang yang selamat meniti jalan yang lurus (shirathal mustaqim).

Namun sebaliknya siapa-siapa yang gagal meniti jalan shirathal mustaqim niscaya karena dosa-dosanya. Dosa-dosanya itulah yang membuatnya tertatih meniti kehidupannya ini. Shirathal mustaqim adalah dilema dan problematika itu kehidupan keseharian yang kita alami.

Sesungguhnya saat ini Tuhan telah menghadirkan surga dan juga neraka dunia. Ada orang-orang yang kita saksikan pada saat ini yang berlari-lari menuju neraka. Orang-orang itu menyeru untuk berbuat kerusakan dan ketika mereka diingatkan, mereka tak dapat menerima peringatan, melainkan dia menyatakan bahwa yang dilakukannya itu adalah untuk kebaikan. Merekalah orang yang berlari menuju peperangan untuk saling memusnahkan dan hatinya dibakar oleh dendam yang menggelora di dalam tubuhnya. Demikian neraka itu membakar hawa nafsunya. Maka demikianlah mereka menghancurkan sesamanya sampai dirinya sendiri terbakar hangus di dalam peperangan itu. 

Siapapun yang menang dalam peperangan itu, iblislah yang tertawa gembira karena telah usai kutukannya dan kodratnya pun segera tergantikan oleh manusia yang kejam dan penuh dosa. Demikianlah sistem kehidupan neraka dan surga yang dijelaskan Tuhan pada saat ini. 

Di akhir zaman ini banyak bencana alam, gempa, tanah longsor, dan peperangan yang melanda manusia. Mereka semua yang mati di dalam musibah itu, yang terbunuh ataupun terbakar adalah mereka yang memiliki ruh-ruh yang sedang mendapat penghukuman Tuhan oleh akumulasi dosa-dosanya. Demikian pula sebaliknya bila seseorang mendapatkan kebahagiaan, cinta dan kasih sayang, maka sesungguhnya demikianlah itu merupakan buah kebajikan dari perbuatannya dahulu dan saat ini.

Di Padang Mahsyar inilah Tuhan menggenapkan seluruh kebajikan maupun seluruh dosa yang telah diperbuat manusia. Maka tiadalah yang terjadi di alam semesta saat ini terjadi melainkan itulah perhitungan dan azab Tuhan atas dosa-dosa umat manusia. Sesungguhnya aneka bencana sebagaimana banjir, gempa dan kebakaran adalah tangan-tangan Tuhan yang menghisab ruh-ruh mereka yang berdosa. 

Di tangan Malaikat Jibril-lah penjelasan semua peristiwa yang terjadi di alam semesta saat ini. Sungguh Jibril-lah yang menjadi penyambung lidah Tuhan untuk menyatakan apa-apa yang ingin dinyatakan Tuhan dan apa-apa yang ingin dijelaskan Tuhan. Demikianlah sesungguhnya di bumi saat ini sedang terjadi pengadilan Tuhan atas makhluk-Nya. Dan Malaikat Jibril-lah yang menyatakannya.