|
PENUTUP
Kepada siapapun yang sedang menyimak fenomena Eden,
Kami ingin mengingatkan agar Anda tidak memutlakkan kebenaran yang Anda yakini, apalagi menghadapkan kebenaran Anda dengan kehendak Tuhan yang sedang diturunkan-Nya. Berlapang dan bertengganglah karena yang sedang Anda amati bukanlah pergelaran yang dibuat manusia yang dapat Anda terka arah dan tujuannya dengan mudah. Pergelaran yang sedang Anda amati berada dalam bentangan Tuhan semesta alam. Tak ada seorang pun yang tahu dan kami sendiri pun tak ada yang tahu akhir kisahnya karena dalam takdir ini kami hanyalah bidak-bidak catur-Nya.
Wahai saudara kami di agama dan keyakinan apapun,
Janganlah membayangkan Tuhan dan cara kerja Tuhan hanya seperti yang ada dalam benak Anda. Jangan hanya membayangkan Tuhan sebagai Yang Maha Pengasih, karena sesungguhnya Tuhan pun Penguasa Yang Menghakimi.
Jangan hanya membayangkan Tuhan Yang Maha Pemaaf, karena sesungguhnya Tuhan pun Maha Mengazab dan Membalaskan Kesalahan. Jangan hanya membayangkan Tuhan Yang Maha Lembut, karena sesungguhnya Tuhan pun Maha Pemaksa atas Kehendak-Nya.
Demikianlah Tuhan dan kehendak-Nya senantiasa melampaui kategori dan pengetahuan manusia. Demikianlah kehendak Tuhan senantiasa mengejutkan manusia pada zamannya.
Kepada saudara-saudara yang kami cintai,
Janganlah terburu-buru menyimpulkan karena perjalanan ini tak sesederhana sebagaimana yang Anda kira.
Saat Anda lihat kami berbelok dan menurut Anda kami tak berjalan di jalan yang lurus, jangan terburu mencela dan menghakimi. Kewajiban manusiawi Anda untuk bertanya dan mengingatkan, tapi jangan mudah menuduh.
Wahai saudaraku, seandainya saja Anda dapat merasakan apa yang kami alami, tentu Anda dapat lebih memahami bagaimana kehendak Tuhan itu berjalan. Pernahkah Anda berada di persimpangan jalan, di suatu kondisi di mana tak ada lagi pijakan bagi Anda untuk dapat meyakini atau menolak sesuatu karena segala pakem yang membuat Anda dapat berpijak telah runtuh, segala teori dan pemahaman yang mengantarkan Anda pada sebuah kepercayaan telah dihancurkan? Bila Anda sudah pernah mengalami keadaan dilematis yang melampaui logika pikiran itu, niscaya Anda dapat berempati dengan apa-apa yang kami alami. Tapi bila Anda belum pernah merasakannya, saya berharap Anda dapat berempati dan tidak terburu-buru menutup pintu.
Sungguh berat memang pernyataan yang sedang dibawakan oleh Tuhan dan Ruhul Kudus melalui Eden. Sebab, memang saat inilah penggenapan Hari Yang Berat sebagaimana yang disebutkan di dalam Kitab-kitab Suci. Inilah pernyataan-pernyataan berat dari Ruhul Kudus sebagai jalan penyingkap pertolongan Tuhan. Inilah hari yang penuh bencana yang harus dilalui manusia untuk keseimbangan alamnya.
Sungguh, tiadalah Malaikat Jibril dapat mencelakakan seseorang bila bukan karena dosa-dosa yang dilakukan orang tersebut. Dosa-dosalah yang menjadikan pintu keterkutukan manusia. Bila Jibril menyatakan kutukan, karena itu adalah maklumat dari Tuhannya dan karena inilah masanya Tuhan sedang menghakimi setiap dosa, maka menjadilah Jibril menyatakan kutukan terhadap dosa-dosa.
Hal ini dinyatakan agar umat manusia menyadari bahwa rusaknya peradaban dan bumi ini adalah karena dosa-dosa mereka. Jadi, dosa manusialah, wahai kawan, yang mengantarkan seseorang menemui bencana maupun keterkutukan.
Majelis Hakim yang mulia,
Demikianlah telah kami sampaikan semua yang menjadi amanat Tuhan kepada kami. Telah kami sampaikan fakta persidangan dengan sejujurnya. Telah kami sampaikan penjelasan dan konteks Pesan-pesan Tuhan yang disampaikan melalui Komunitas Eden yang menjadi pokok perkara dalam persidangan ini.
Kami serahkan semua keputusan kepada Majelis Hakim yang terhormat dan memiliki kewenangan memutuskan perkara ini.
Kami berserah diri kepada Tuhan atas semua yang terjadi terhadap kami.
“Tuhan, jadilah kehendak-Mu atas kami semua. Kuatkan dan satukan kami semua yang mensucikan diri di manapun berada untuk dapat bahu membahu mendirikan Kerajaan-Mu, Surga-Mu di muka bumi, rumah sejati bagi seluruh umat beragama dari seluruh agama dan bangsa. Amin.”
Jakarta, 15 November 2006
Muhammad Abdul Rachman
|