0

 

welcome home angels




Selamat Datang - YM Muhammad Abdul Rachman        Kidung Eden

 


Milis Salamullah-Info

Duplik Eden (9): Kerajaan Tuhan PDF Print E-mail
YM Muhammad Abdul Rachman (Rachman)
Wednesday, 15 November 2006

7. KERAJAAN TUHAN

Majelis Hakim yang mulia dan hadirin yang terhormat,

Sebagaimana yang telah kami jelaskan, sentral pengutusan Tuhan pada saat ini adalah malaikat yang tak terlihat tapi terasakan kehadirannya, bukan manusia sebagaimana Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Daud, Nabi Isa, Nabi Muhammad.

Inilah masa kerasulan Malaikat, Ruhul Kudus. Dia menyapa semua umat yang bersuci dan beriman, dia berjalan-jalan di muka bumi untuk memberikan pengajaran bagi seluruh umat manusia. Dan dia sedang membangun Kerajaan Tuhan, Surga Tuhan di muka bumi milik seluruh umat yang bersuci dari agama dan keyakinan apapun.

Di masa kini, Malaikat Jibril tidak membawa wahyu-wahyu Allah berupa syariat, hukum dan norma-norma sebagaimana wahyu-wahyu-Nya yang didokumentasikan di dalam Kitab Suci yang terdahulu. Malaikat Jibril, sang Ruhul Kudus datang untuk mengajarkan ilmu dan hikmah kehidupan. Dia tidak membawa ajaran berupa seperangkat aturan, tapi dia turun membawa ilmu dari Tuhan dengan mengajarkan kesucian, kebijaksaaan, kearifan, keseimbangan, pengabdian, keadilan, cinta dan kasih sayang.

Pengajaran Ruhul Kudus pada saat ini tidaklah terpaku pada norma keumuman. Dialah guru kehidupan yang mengajarkan kehakekatan sebagaimana dia yang mengajarkan para nabi dan orang suci sepanjang masa.

Di kalangan para sufi/wali dia dikenal sebagai Khidir, sosok gaib yang mengajari Musa. Sesungguhnya Khidir adalah malaikat yang kefungsiannya memvisual, dan sesungguhnya dia juga adalah Ruhul Kudus. 

Dalam pengajaran Ruhul Kudus, orientasi yang sangat ditekankan adalah pada hasil yang ingin dicapainya, yaitu kesucian dan akhlak yang mulia. Cara apapun ditempuhnya untuk menjadikan para muridnya mapan kesuciannya, matang serta  makrifat dalam menyikapi segala keadaan.

Demikian pun, ujian-ujian yang dihadirkan Ruhul Kudus sangat dalam dan beragam menyesuaikan dengan kehidupan manusia yang sedang dididiknya. Ujian Tuhan itu tiada terduga, tiada berpola dan tiada berpakem. Bila seorang rasul hanya diuji Tuhan berdasarkan pakem dan rujukan yang telah ada atau ujiannya dapat diantisipasi tingkat kesulitannya, maka belumlah itu disebut ujian hakiki dari Tuhan. Ujian para rasul itu mestilah sampai pada kemakrifatan dan kehakikian kebenaran.

Mengapa?

Karena kesetiaan, cinta, ketawakalan yang hakiki baru dapat terlihat ketika seseorang sampai pada ujian yang semacam itu. Bila seseorang masih diuji Tuhan pada kebenaran yang umum dan dia beriman berdasarkan rujukan dan pemahaman yang telah baku, maka belumlah itu sampai pada hakikat pengujian dan pensucian.

Karena pensucian itu haruslah sampai pada keberhasilan melewati kesulitan yang paling ditakutkan, paling tak disukai dan melalui pintu yang tak pernah dipikirkannya.

Demikianlah ujian yang dihadirkan Malaikat Jibril itu tak pernah sederhana.

Akankah seorang rasul itu sampai pada hakikat kebenaran Tuhannya bila masih ada dua entitas kebenaran yang dimilikinya, yaitu kebenaran Tuhan dan kebenaran dirinya? Itulah sebabnya Tuhan senantiasa menguji seorang rasul hingga batas maksimal sehingga luruh kebenaran dirinya. Dan ujian itu niscaya sampai pada keadaan di mana tak ada lagi pijakan dan pegangan yang dapat dijadikan sandaran baginya.

Pilihan terakhir baginya tinggal dua, memilih kebenaran sesuai yang diketahuinya atau berserah diri kepada-Nya.

Dan kemampuan meluruhkan kebenaran diri walaupun itu berarti merugikan ego, harkat, kepentingan pribadi (vested interest), itulah pondasi kebenaran yang menjadi induk dari segala kebajikan yang diajarkan Tuhan. Demikianlah para rasul itu senantiasa diuji kesetiaan, iman dan cintanya.

Maka, kami mengajak kepada seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia untuk bersama-sama meniti ujian dan pengajaran Tuhan yang sedang dibentangkan-Nya. Ujian itu ditujukan kepada kami yang membawakan pesan-pesan-Nya, tetapi ujian itu pun melibatkan masyarakat sekalian untuk mensikapinya.

Negeri ini adalah cikal bakal Kerajaan Tuhan di bumi dan Tuhan sedang mendidik secara massal penduduk negeri ini hingga layak menjadi penghuni Surga-Nya. Mungkin penduduk negeri ini memang harus melalui Neraka karena dosa dan pengingkarannya sebelum negeri ini benar-benar dibangun Tuhan sebagai bentangan Surga dan Kerajaan-Nya. Tapi sungguh, suka atau tidak suka, inilah negeri yang dipilih Tuhan sehingga mengalami pendidikan yang keras dari-Nya. Dan suka tidak suka, manusia harus berserah diri dalam kehendak Tuhan sebagaimana berserah dirinya alam semesta.

Majelis Hakim yang mulia dan hadirin yang kami hormati,

Andaikata kami masih peduli dan memikirkan ‘keadaan/nasib diri kami’ dengan cara berpikir kami, maka sungguh kami tak akan dapat melewati ujian-ujian Tuhan karena berarti kami masih mempersekutukan Dia dengan selain-Nya. Dan niscaya tak akan pernah kami sampai pada keadaan yang dikehendaki Tuhan karena masih ada lubang ketidaktawakalan kami kepada-Nya.

Namun saat kami dapat melepaskan diri dari segala rujukan, kategori serta keselamatan diri kami dan hanya membulatkan hati, menyerahkan diri pada apa yang menjadi kehendak Tuhan semata sehingga hanya kehendak Tuhan yang terjadi, maka pada saat itu barulah kami ditarik dalam pelukan Kuasa-Nya.

Walaupun umat manusia melihatnya sebagai kegilaan, namun suatu hari kelak ‘kegilaan’ itu akan menjadi pelajaran.

Demikianlah Tuhan menguji setiap hamba-hamba-Nya yang berada di jalan-Nya. Demikian kami berpasrah diri di dalam genggaman dan kehendak-Nya.

 
< Prev   Next >

YM M. Abdul Rachman

YM Muhammad Abdul Rachman



Eden Terbaru

         Terbaru!!   

    Puisi
    Diari
    Refleksi
    Artikel
    Cerita
    Persepsi
    Hikmah
    Quote
    Berita Eden