0

 

welcome home angels




Selamat Datang - YM Muhammad Abdul Rachman        Kidung Eden

 


Milis Salamullah-Info

Duplik Eden (7): Dilema Ujian Kerasulan PDF Print E-mail
YM Muhammad Abdul Rachman (Rachman)
Wednesday, 15 November 2006

5. DILEMA UJIAN KERASULAN

Majelis Hakim yang mulia dan hadirin yang terhormat,

Diantara pelajaran berharga yang dapat kita petik dari sejarah para Rasul adalah pergulatan kemanusiaan yang dialami oleh para Rasul ketika membawakan Amanah-amanat Tuhan bagi masyarakatnya. Setiap Utusan Tuhan adalah manusia biasa sebagaimana kita. Tetapi, Tuhan menjadikan mereka peraga pengajaran-Nya sehingga umat manusia dapat belajar, bagaimana mengalahkan diri mereka di hadapan Tuhannya.

Para Nabi dan Utusan Tuhan bukanlah robot yang tak memiliki hati dan perasaan. Mereka pun mengalami ujian-ujian di dalam kesehariannya. Saat ini, kisah-kisah pergolakan iman dan dilema para Rasul itu tak banyak diajarkan kepada masyarakat karena para pemuka agama lebih suka membangun image seorang Nabi sebagai manusia super (superman) yang sempurna, selalu menang dan tak terkalahkan. Dalam konteks membangun image Superman itu, dilema dan pergolakan iman dianggap sebagai kelemahan dan dianggap dapat mengotori kesempurnaan Nabi yang dicitrakan itu.

Padahal, dilema dan pergolakan iman adalah sebuah proses manusiawi yang dialami oleh setiap manusia. Dengan memahami pergolakan iman para Utusan Tuhan dan Orang-orang yang disucikan, manusia dapat mengambil pelajaran dan inspirasi untuk kehidupannya sehari-hari.

Dengan menghilangkan aspek kemanusiawian seorang Rasul, para pemuka agama justru menjauhkan ajaran Tuhan menjadi sebuah hal yang ideal dan tak terjangkau oleh manusia.

Banyak kisah pergolakan iman yang dialami para Nabi dan Utusan Tuhan. Salah satunya adalah yang dialami Nabi Muhammad. Dahulu, Nabi Muhammad pernah mengalami pergolakan iman karena merasa ditinggalkan Tuhan. Bertahun-tahun sejak wahyu-wahyu pertama yang diterimanya, Nabi Muhammad tak mendengar wahyu dari Allah lagi. Padahal, pada waktu itu Nabi Muhammad berada dalam kesulitan.

Keadaan itu membuat Nabi Muhammad hampir berputus asa karena terjadi kekosongan wahyu dan petunjuk Allah tak kunjung datang lagi kepadanya.

Peristiwa itu diabadikan Allah dalam Al Quran surat Adh Dhuha.

1. Demi waktu matahari sepenggalan naik
2. dan demi malam apabila telah sunyi,
3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada pula benci kepadamu
4. Dan sesungguhnya akhir bagimu itu lebih baik dari permulaan
5. dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu kamu menjadi puas
6. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu  
7. Dan dia mendapatimu sebegai seorang yang sesat (bingung) lalu Dia memberikan petunjuk
8. Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan

Dan kegalauan itu bukan satu-satunya yang dialami oleh Nabi Muhammad. Pada waktu yang lain, dalam sebuah riwayat dikisahkan Nabi Muhammad yang berdoa kepada Tuhan, “Ya Allah, jikalau Engkau tidak menolong kami (kaum Muslimin) pada saat ini, maka tiadalah lagi orang yang beriman sesudah ini.” Mendengar rintihan doa yang dipanjatkan Nabi Muhammad, para sahabat yang mendengar berkata kepada Nabi Muhammad, “Wahai kekasih Allah, janganlah engkau berkata demikian. Niscaya Allah pasti menolong kita.”

Dalam kisah kerasulan yang lain, kita dapat belajar dari kisah Isa Al Masih yang berada dalam pergolakan iman yang berat saat berada di Taman Getsemani menjelang penangkapan dirinya.

Pada waktu itu, Isa Al Masih berdoa. Dan doa yang dipanjatkannya sungguh mengharukan dan membuat pilu siapapun yang mendengarnya. Isa Al Masih berkata kepada Tuhannya bahwa seandainya diperkenankan untuk memilih, maka dia akan memilih jalan yang lain, tidak sebagaimana yang sedang dijalaninya. Namun, imannya memilih bertawakal kepada apa yang menjadi kehendak Tuhannya, sehingga dia berkata kepada Tuhan agar terlaksanalah apa yang menjadi kehendak Tuhan dan bukan apa yang menjadi kehendak pribadinya.
  
Ya Bapa-ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaku, tapi janganlah seperti yang kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Matius 26:39, Di Taman Getsemani)           

Isa Al Masih mengetahui apa yang menjadi takdirnya. Dalam keadaan terjepit dan putus asa, iblis pun datang menggodanya agar Isa menyimpang dari jalan takdirnya. Iblis berupaya menggodanya agar Isa ragu di jalan Tuhannya.

Namun, sampai akhir hayatnya, Isa tetap setia kepada Tuhannya. Dia tak pernah tunduk pada kemauan iblis walaupun saat menjelang penderitaan kematiannya muncul sisi kemanusiannya. Dia  meratap kepada Tuhannya, “Eli-Eli lamma sabakhtani (Tuhan jangan tinggalkan aku).” Sungguh, tiadalah rasul Tuhan dan para kekasih-Nya itu gentar menghadapi kematian. Sesungguhnya, tak ada yang lebih ditakutinya selain keraguan berada di jalan Tuhannya sebagaimana ketakutannya ditinggalkan Tuhannya.     

Di Eden pun Ruhul Kudus menapaktilasi kembali pengajaran-Nya sebagaimana dahulu kepada para nabi, bahkan kini dia sendirilah yang tampil di hadapan publik, tak hanya menguji perorangan di antara orang–orang yang mengabdi kepada Tuhan di Eden. Di masa kini, publik dilibatkan dalam proses pengajarannya.

Tuhan tak menunggu kesiapan publik, untuk menerima sebuah pengajaran yang tak biasa. Dia tetap menghadirkan pengajaran-Nya, diminta atau tak diminta. Eden adalah sebuah proses pengajaran Tuhan yang sedang berlangsung dengan Khidir atau Malaikat Jibril sebagai utusan-Nya. Di Eden kami dibuat pontang–panting untuk dapat mengerti arah yang ditujunya. Kebijakannya bahkan seringkali membuat kami ragu.

Manakah yang paling diinginkan kaum Eden? Adalah dipercayainya takdir ini, tak ada yang lain. Bila takdir Tuhan ini diterima, maka sebuah jaminan perbaikan dan kemaslahatan bangsa dan umat akan terwujud. Bukankah itu sebuah keinginan mulia? Keinginan untuk tak lagi dihinakan, dikucilkan dan dianggap sesat, bukankah itu sebuah kewajaran? Setelah sepuluh tahun, segala kebaikan dan pengorbanan berbalaskan hinaan dan pemenjaraan.

Demikianlah keinginan untuk dibenarkan mengantarkan kami dalam ujian yang tak bertepi. Kami ingin menampilkan segala citra kebaikan agar layak dipercaya takdir ini di hadapan manusia kini, tapi kebijakan-Nya bersimpang arah dengan yang kami inginkan.

Kami menginginkan kemenangan, tapi Dia menginginkan kesetiaan tak berbatas dari kami, sebagaimana janji kami kepada-Nya. Sebuah ujian dari Tuhan niscaya mendatangkan hikmah yang mensemesta, niscaya  tak satu arah yang dituju, tak  sebagaimana manusia.  

Baru-baru ini  kami dibawanya dalam sebuah ujian yang sangat sulit dan berat, karena melibatkan publik, yaitu menyampaikan risalah berisi berita gempa di Jakarta  yang akan terjadi pada tanggal 23 Oktober dan ternyata peristiwa itu tak terjadi.

Saat kami terhimpit, kami membutuhkan pembelaan, tetapi pembelaan itu datang dalam bentuk ujian. Sulit bagi kami melihat hal tersebut sebagai pembelaan, karena peristiwa ini  mendelegitimasi kami secara sosial maupun secara spiritual. Tetapi itulah yang menjadi kehendak Tuhan atas kami.

Hitungan manusia itu bukan hitungan Tuhan. Logika manusia berada dalam keterbatasan,  sedangkan logika Ilahi berada dalam ketak-terbatasan dan ketakterhinggaan.

Apa yang dianggap baik dan mulia bagi manusia, belum tentu baik bagi Tuhan dalam kehendak-Nya. Sampai luruh kami berada dalam kesadaran-Nya, Takdir Kerajaan Surga ini tetap berada dalam rancangan-Nya, bukan rancangan kami dan bukan pula menjadi milik kami. Kemenangannya berada dalam genggaman-Nya. Kemenangan kami adalah kesetiaan kami kepada-Nya hingga akhirnya. Karena hanya itulah yang dituntutkan kepada kami yang menyertai takdir-Nya. Setia sebagaimana para kekasih-Nya dahulu, karena sesungguhnya kisah para rasul adalah kisah kesetiaan seorang hamba kepada Tuhannya.

Majelis Hakim dan hadirin yang terhormat,

Isa, Muhammad, dan Musa adalah sosok manusia yang juga senantiasa terus-menerus berada dalam pergulatan iman, dalam ujian-ujian yang diterimanya dari Tuhannya.

Kepada umat Nasrani, maafkan kami bila kami mengatakan tiadalah Yesus itu Tuhan yang serupa dengan Bapak. Kisah pergulatan imannya menandakan bahwa dia adalah anak manusia yang diutus oleh Bapak, Tuhan Yang Maha Esa. Karena bila dia Tuhan Yang Maha Esa, tiadalah mungkin dia berada dalam pergulatan yang terus menerus hingga di ujung tiang salib.

Dan kepada kaum Muslimin, kami juga meminta maaf karena kami harus menyampaikan penilaian Tuhan bahwa banyak diantara Anda yang mengkultuskan Nabi Muhammad dan mempersandingkannya dengan Tuhan. Itulah penilaian Tuhan ketika Anda menganggap hanya melalui Muhammad doa dianggap sah dan Muhammad dianggap dapat memberikan keberkahan kepada orang yang masih hidup walaupun beliau sudah meninggal dunia.

Sesungguhnya Nabi Muhammad adalah sosok manusia biasa yang terkadang diliputi kegalauan, tapi Tuhan senantiasa menolongnya, karena ketawakalannya. Muhammad dan kisahnya adalah cermin buat kita agar kita dapat mencontohnya. Demikian Tuhan menghadirkannya untuk kita agar kita sampai ke hadirat-Nya.      

Sungguh tak sederhana kisah-kisah rasul yang diceritakan Tuhan kepada kita lewat Kitab Suci-Nya. Tak sederhana bagi pembawanya, tak sederhana pula bagi umat untuk dapat memahami dan mengerti serta meyakini takdir kerasulan itu. Namun, kesucian dan kerendahan hati niscaya dapat membuka dan menyingkapkan kerasulan yang merupakan rahasia Ilahi.

Maka, marilah kita senantiasa bersuci dan menjadikan kerendahan hati sebagai bagian yang menyatu bersama diri kita. Dan sesungguhnya hati nurani jauh lebih dahulu dapat merasakan kebenaran Tuhan daripada pikiran kita. 

 
< Prev   Next >

YM M. Abdul Rachman

YM Muhammad Abdul Rachman



Eden Terbaru

         Terbaru!!   

    Puisi
    Diari
    Refleksi
    Artikel
    Cerita
    Persepsi
    Hikmah
    Quote
    Berita Eden