|
4. KOMPLEKSITAS AJARAN TUHAN
Majelis Hakim dan hadirin yang kami hormati,
Berikut ini kami sampaikan beberapa contoh kompleksitas Ajaran Tuhan pada saat diturunkan-Nya, yang seringkali memang berbeda dengan pemahaman keagamaan pada masa itu, bahkan sulit dicerna kecuali kita dapat memahami ruh pengajaran Tuhan yang sejati.
Salah satu contoh kompleksitas ajaran Tuhan yang dikenal secara luas adalah dilema Ibrahim ketika mendapat perintah melalui mimpinya untuk menyembelih anaknya yang sangat disayanginya.
Bagaimana seseorang menerima perintah yang tidak masuk akal, bahkan untuk masa kini sekalipun? Darimana Ibrahim tahu bahwa itu perintah dari Tuhan atau iblis? Bagaimana pandangan masyarakat terhadap perilaku seorang Ayah yang ingin menyembelih anaknya? Walaupun peristiwa penyembelihan anak itu tak terjadi, tetapi kita semua dapat melihat kompleksitas perintah Tuhan itu.
Contoh kedua yang ingin kami hadirkan adalah perjumpaan Nabi Musa dengan Khidir yang kisahnya dimuat di dalam Al Quran, surat Al Kahfi ayat 60-82. Di dalam kisah itu, Tuhan menceritakan mengenai Nabi Musa yang gagal mengikuti perintah Tuhan melalui Khidir yang dinilainya tak sesuai dengan logika pengetahuannya.
Selengkapnya, inilah kisah dan dialog yang dimuat di dalam Kitab Suci Al Quran itu:
Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada Muridnya “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.
Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya, “Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.”
Muridnya menjawab, “Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku menceritakannya kecuali syetan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.”
Musa berkata, “Itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.
Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu dari sisi Kami.
Musa berkata kepada Khidir, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” Dia menjawab : “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”
Musa berkata, “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan apapun.”
Dia berkata, “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang suatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.”
Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir melubangi perahu itu. “Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat kesalahan yang besar.”
Dia (Khidir) berkata, “Bukankah aku telah berkata, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.””
Musa berkata, “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.”
Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir membunuh. Musa berkata, “Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar.”
Khidir berkata, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan sabar bersamaku?”
Musa berkata, “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah kali ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku.”
Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka. Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir menegakkan dinding itu. Musa berkata, “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah itu.”
Khidir berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tentang perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.
Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.
Adapun anak itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kepada kedua orang tuanya pada kesesatan dan kekafiran.
Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mengganti bagi mereka dengan anak yang lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan-tujuan perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.”
Majelis Hakim yang mulia dan hadirin yang terhormat,
Melalui dua kisah tersebut, kami ingin mengangkat pembahasan mengenai kompleksitas ajaran Tuhan pada saat diturunkan-Nya.
Bagaimana seandainya peristiwa-perisitiwa semacam itu terjadi pada masa kini? Bagaimana respon masyarakat menyikapi kehendak Tuhan yang semacam itu?
Jika hanya menggunakan pemahaman keagamaan yang umum dan sederhana, Ibrahim adalah seorang Ayah yang buruk dan nasibnya niscaya berakhir di penjara karena hendak membunuh anaknya. Demikian pun, masyarakat niscaya membela logika Musa yang mempertanyakan perintah Khidir yang tak masuk akal itu.
Lalu, mengapa masyarakat beragama dapat menerima kisah Ibrahim dan Musa itu sebagai sebuah kebenaran dari Tuhan dan pembelajaran spiritual? Lalu, jika masyarakat dapat menerima kisah Ibrahim dan Musa, mengapa masyarakat tidak belajar bahwa kebenaran Tuhan dapat muncul dalam bentuk yang tak sesederhana sebagaimana yang ada dalam pemikiran mereka?
Kedua kisah itu menjadi pelajaran besar dalam spiritual karena menguakkan dasar-dasar di dalam kebertuhanan yang sejati.
Kisah Ibrahim adalah kisah pergulatan hamba Tuhan yang ditegurkan Tuhan karena lebih mementingkan sesuatu yang sangat dicintainya (anaknya), daripada kepentingan Tuhan (kebajikan semesta). Kemampuan Ibrahim mengalahkan kepentingan pribadinya adalah sebuah pelajaran besar spiritualitas. Dan itulah teladan spiritualitas manusia yang memberikan inspirasi bahwa manusia dapat melampaui kepentingan diri dan batas-batas kemanusiaannya untuk meraih nilai-nilai yang lebih mulia.
Sementara itu, perjumpaan Musa dengan Khidir adalah kisah pergulatan Musa sebagai seorang hamba Tuhan yang sedang ditegur Tuhan karena kesombongan rasionalitasnya. Musa adalah representasi kita yang selalu ingin bertanya dan ingin tahu. Musa berada di dalam syariat manusia sebagaimana kita. Sungguh, bila kita melihat ada sesuatu yang janggal dan kita tidak punya pengetahuan akan hal itu, maka lazim bagi kita untuk bertanya. Dan apabila kita melihat ada sesuatu yang salah, maka sewajarnyalah bagi kita untuk mengingatkan. Demikianlah hukum syar’i itu. Bila itu kita tidak lakukan, maka kita akan diminta pertanggungjawaban oleh Tuhan.
Adalah wajar bila Musa bertanya kepada Khidir terhadap apa-apa yang telah dilakukannya. Musa adalah representasi saya, Anda dan kita semua. Kendati demikian, ketika bertanya semestinya kita tetap berada dalam kesadaran bahwa pengetahuan dan kebenaran yang kita ketahui sangatlah terbatas. Ilmu dan pengetahuan yang kita miliki ibarat burung yang mematukkan paruhnya ke dalam lautan, air yang ada di paruh burung tersebut itulah ilmu manusia. Maha Tak Terhingga Tuhan di dalam ilmu-Nya.
Sungguh kami sangat meyakini bahwa Tuhan itu sangat senang bila hamba-Nya senantiasa bertanya kepada-Nya tentang apa-apa yang tak dipahaminya. Dan bila jawaban dari Tuhan diberikan, maka sungguh itu adalah karunia yang besar. Demikian jalannya petunjuk Tuhan dan dari sana pula Tuhan mengajarkan ilmu dan hikmah.
Melalui hikmah atas kisah perjumpaan Musa dengan Khidir, kami ingin menyatakan bahwa rasionalitas adalah sebuah karunia Tuhan yang diberikan kepada manusia untuk memahami kehendak Tuhan dan menjalani hidupnya. Tetapi kala rasionalitas dianggap satu-satunya alat yang valid dan kemudian disombongkan, maka Tuhan pun menegurkan bahwa pengetahuan Tuhan mencakup yang rasional dan melampaui rasionalitas (beyond rationality). Itulah pelajaran Tuhan yang dihadirkan-Nya kepada manusia, agar manusia bersikap rendah hati di dalam pemahamannya dan tak menyombongkan pengetahuannya.
Majelis Hakim yang mulia,
Melalui kisah di atas, kami ingin mengajak Majelis Hakim yang mulia dan para pemerhati persidangan ini untuk merenungkan kompleksitas pengajaran Tuhan yang terjadi sepanjang masa. Kehati-hatian terhadap fenomena Nabi Palsu adalah sebuah hal yang baik. Tetapi pemberhalaan terhadap pemahaman sendiri dan kesombongan dapat membuat siapapun terjatuh dari titian Jalan Tuhan yang sejati. Dan penentangan terhadap Kehendak Tuhan yang sejati adalah catatan buruk yang akan tercatat sepanjang masa. |