|
Suaranya melolong, menembus kegelapan malam, dari waktu ke waktu, dari tempat yang sunyi melesat ke dalam kehidupan yang dingin dan gulita. Rintihan, tangisan, lolongan, ganti berganti menguak udara yang dingin, menusuk pilu bagi yang mendengarnya. Begitulah, hantu tak bernama ini menjalankan kehidupannya yang mencekam, dalam kegelapan yang seolah tak pernah berakhir. Melulu dibebani penderitaan. Tak seperti dikatakan orang, kematian akan memisahkan seseorang dari beban hidupnya, dari penderitaan yang menderanya, dari kesakitan-kesakitannya. Bahkan lebih dari orang yang masih hidup, beban, kesakitan dan penderitaan itu kini harus ditanggungnya sendiri. Ya, ia baru saja mengalami kematian itu setelah hampir 65 tahun menjalani kehidupannya sebagai manusia.
"Uuuuu...uuuuu...uuuu..." lolongan hantu itu terdengar menyayat hati. Dilewatinya sebuah rumah indah, tempat ia biasa merasakan kehangatan. Berhari-hari ia berada di sana, mencoba kembali menikmati kebahagiaan itu, namun melulu kepedihan yang ia terima. Ketika ia hadir di tengah-tengah orang yang dicintainya, Sani, anak sulungnya, malah menutup hidung, merasakan bau busuk. Untung saja ia tak mengajari cucunya, Uli, yang berusia 2 tahun, untuk melakukan hal yang sama. Tak dilihatnya Uli dan ayahnya, Banar, menantu yang selalu ia bangga-banggakan karena pemikirannya mengenai masalah sosial politik yang serba brilian dan orisinal.
"Ihh...aneh sekali, kok tiba-tiba bau kambing bandot!" kata si sulung dengan wajah jijik.
"Jangan-jangan ada jin lewat," kata Akad, adiknya, menakut-nakuti.
"Sudah, sudah, jangan ribut begitu. Kalau ada ruh jahat begitu, langsung aja dibaca-bacain," kata ibunya anak-anak sambil melenggang.
Betapa kemarahan menggunung dirasakan hantu tak bernama itu. Ia lihat istrinya yang tak tahu membalas budi. Padahal semua kekayaan yang telah susah payah diperolehnya itu, tak perduli halal-haramnya, semuanya telah diatur dan menjadi milik istrinya. Melesat, ia meninggalkan rumah mewah yang dibangunnya dengan kebanggaan itu.
"Uuuu...uuuu...." dingin sekali ia rasakan, udara malam yang mendadak dicurahi hujan lebat. Setiap tetes hujan yang menyentuhnya, seolah bagaikan sekerikil salju yang mencubitnya dengan tajam. Tak terkatakan perihnya. Hantu tak bernama bernaung di bawah pohon mangga, di ujung taman, tempat ia biasa mengobrol bersama anak sulung, menantu dan cucu kesayangannya itu.
Dari kejauhan ia menontoni perilaku keluarganya. Di dalam rumah, seluruh anggota keluarga, tengah asyik menonton teve di ruang tengah, sambil makan makanan kecil kesukaan mereka, kacang mede dan pisang keju. Mereka asyik berkumpul dan tampaknya tak perduli dengan kehadiran sosok yang dulunya sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka itu
"Iih...dingin ya?" kata Ibunya anak-anak, yang dulu dianggapnya sebagai wanita yang paling setia dan selalu mengiyakan setiap kata-katanya.
"Iyaa, Bu. Tapi kayaknya bulu kudukku berdiri lagi, nih!" menyahut Sani, anak gadis yang konon wajahnya merupakan perpaduan antara ibu dan ayahnya.
"Hiih...jangan-jangan ada hantu lewat lagi...hiiih!" kata Ari, si bungsu, sambil merapatkan duduknya dekat ibunya.
"Waduh, ngeri sekali. Kita baca-bacain lagi, yuk, biar kabur dia!" kata si ibu. "Ayo cepat, tutup semua pintu dan jendela!"
Pedih dirasakan hantu tak bernama itu, melihat begitu tak berbelas kasih mereka semua itu. Tak terlalu dirasakan oleh mereka rasa kehilangan itu setelah kepergian dirinya, dua pekan lalu. Mereka memang menangis terus saat pemakaman jasadnya, saat tamu-tamu tak berhenti mengalir mendatangi rumah mewahnya. Namun di dalam hati, kesedihan mereka tertutup kebanggaan karena memiliki kepala keluarga yang terhormat, memiliki gelar dan jabatan tinggi, dikenal sebagai orang alim yang disegani, dan juga pandai menempatkan diri sebagai seniman. Pergaulan yang luas, kepandaian mencari rezeki di sana sini, pengakuan dan penghormatan yang selalu dirasakan, membuat ia dulu, sebelum jadi hantu, sangat sibuk berurusan dengan hal-hal yang melulu penting. Tak ada hal remeh temeh yang akan diurusinya. Ia memiliki staf yang selalu patuh dan siap menyelesaikan segala urusan yang dikategorikan tak terlalu penting, dan juga yang serba musykil.
Maka, penolakan sekecil apa pun, amat menyakitkan baginya, apalagi penolakan dari mereka yang pernah memujanya. Namun ia tak pandai berkata-kata lagi, tak pandai pula menyatakan dirinya, seperti yang biasa ia lakukan. Bahkan untuk mengenal dirinya sendiri, sulit sekali ia lakukan.
"Uuuuu...iiiii....hiii....hiii..." lolongan hantu tak bernama terdengar lagi. Seperti kepedihan yang tak berujung. Tak tahu ia sudah berapa lama mengembara dari tempat-tempat yang sepi, pepohonan yang besar dan kuburan-kuburan yang senyap. Dirasakan berabad-abad lamanya, penderitaan dan kepedihan itu.
Dalam kesendirian yang melelahkan, tiba-tiba hantu tak bernama melihat kelebatan sinar biru bersemu jingga terbang melintasinya. Secercah harapan seolah muncul. Ingin betul ia beroleh penerangan dari sinar yang indah itu.
"Haiiiiiiii...hiiii...!" hantu itu mencoba berteriak dengan suara lemah. Mendadak sinar biru yang tengah melayang-layang itu berhenti tepat di hadapannya.
"Ada keperluan apa kamu memanggilku?" kata sinar biru dengan suaranya yang berat dan tegas.
"Hiiii...tolonglah aku, aku kedinginan, aku kesepian, aku ketakutan, aku...aku..."
"Tolonglah dirimu sendiri. Bukankah selama ini kamu selalu merasa hebat dengan keadaanmu?" kata sinar biru, yang ternyata adalah malaikat yang sedang menjalankan tugasnya.
"Engkau salah, aku selamanya dalam penderitaan. Siapakah kamu ini, yang tak pandai berbelas kasih?" lancar sekali hantu itu berkata-kata, yang langsung dapat ditangkap oleh lawan bicaranya.
"Aku adalah malaikat penjaga waktu. Aku menerima tugas Tuhan, yang membuatku harus selalu mengawasi kehidupan manusia dan semesta yang melingkupinya, dari waktu ke waktu," kata sinar biru dengan suara tegas.
"Berarti engkau bisa menolongku agar terbebas dari penderitaanku yang tak alang kepalang ini," kata hantu berharap. Suaranya tersengal-sengal, seolah sudah menumpuk seluruh beban penderitaan itu disandangnya.
"Tak ada kemampuanku untuk memberikan pertolongan kepadamu. Keputusan Tuhan telah jatuh kepadamu."
"Keputusan yang mana?" kata hantu memprotes. Suaranya meninggi, membuat bulu roma berdiri.
"Tak ingatkah engkau pada peristiwa kematianmu? Bagaimanakah keadaanmu saat nyawamu dicabut? Adakah kamu tak melihat bagaimana kesalahanmu dibeberkan dan dinyatakan keadaanmu setelahnya."
"Aku ingin kembali seperti semula, menjadi manusia."
"Ya, engkau ingin menjadi tokoh terkemuka seperti masamu hiudup dahulu."
"Mengapa hidupku sekarang melulu dalam kegelapan dan kesakitan? Di mana keadilan Tuhan?" kata hantu lagi. Terbayang kembali enaknya menjadi manusia, mempunyai keluarga yang selalu bisa menerima keadaannya, betapapun buruknya itu. Tak pernah istrinya tahu, betapa ia telah berselingkuh dengan wanita montok, berkulit putih yang pandai berdansa, dan selalu mengaguminya meski ia telah semakin renta. Maka, segala keiniginan kekasihnya itu diam-diam selalu ia penuhi. Segala perhiasan dan uang yang ia perlukan, akan segera terkirim begitu Si Ndon, begitu nama mesra yang dirahasiakannya, menelpon atau menyuratinya. Alangkah indah mengenang masa-masa itu.
"Inginkah kamu agar aku menyebutkan keadaanmu dahulu? Bukankah telah jelas keadaanmu yang sesungguhnya, ketika engkau sakit keras dan tak bisa mengingat apa-apa kecuali dosa-dosamu? Sesungguhnya Tuhan adalah seadil-adil Hakim di muka bumi ini," kata malaikat, menghancurkan bayangan nafsunya yang tak bakal teraih kembali.
"Lalu mengapa Tuhan membiarkan aku hidup menderita seperti ini?"
"Karena engkau telah menyebabkan banyak orang menderita. Kebenaran yang kauyakini dengan kukuh telah membuatmu tak adil dalam membuat sebuah keputusan, sehingga banyak orang yang lebih murni kebenarannya daripada kebenaranmu yang berbau materi itu harus hidup terlunta-lunta. Maka beginilah kehidupanmu yang sekarang, terlunta-lunta..!"
"Sebenarnya kamu ini sedang berbicara apa? Adakah aku ini begitu jahat, sehingga membuat banyak orang hidup menderita?"
"Itulah kelemahanmu yang lain lagi. Tak nampak kejahatanmu yang besar itu. Karena engkau adalah orang yang berwenang menyuarakan pengajaran Tuhan di muka bumi. Namun kewenangan itu telah kauputarbalikkan, sehingga seolah engkaulah yang memiliki kebenaran itu, dan bukannya Tuhan semata."
"Sungguh kejam tuduhanmu itu."
"Perlakuanmu kepada mereka yang tak bersalah jauh lebih kejam!" kata malaikat dengan suara keras. Bagaikan petir yang menggelegar, membelah bumi, membuat hantu itu meringkuk dalam ketakutan yang amat sangat.
"Mengapa aku dijadikan seperti ini oleh Tuhan? Alangkah malang nasibku, semua orang takut kepadaku, bahkan keluargaku selalu mencium bau busuk setiap kali aku hendak menyapa mereka. Sungguh aku tak mengerti ketentuan Tuhah ini ."
"Engkau adalah sosok terkemuka di kaummu. Engkau terkenal, engkau berilmu, hidupmu mapan, keluargamu pun termasuk orang-orang penting. Kalau engkau belum mengerti juga mengenai keputusan Tuhan kepadamu, itu semua disebabkan oleh pengetahuanmu yang semu. Sungguh bodoh kamu dengan segala yang kauketahui itu, sementara engkau merasa dirimu yang terbenar, dan pendapatmu adalah yang terbenar!" kembali menggelegar suara malaikat.
"Kenapa kamu malaikat tak mengenal belas kasih? Sedari tadi engkau memarah-marahiku terus," kata hantu tak berdaya.
"Karena aku sedang berbicara dengan sosok yang tak pernah merasa bersalah dengan perbuatannya. Sedangkan kamu telah menyebabkan penderitaan hampir seluruh umat manusia di negeri ini. Engkau telah menjadikan kata-katamu itu fitnah, sehingga tersebar luas menjadi pemahaman yang keliru bagi bangsa ini. Dan akhirnya mereka semua berdosa kepada Tuhan karena kata-katamu!"
"Aku tak pernah berkata-kata buruk!" teriak hantu putus asa.
"Walau sebaik apa kata-katamu itu, tapi niatmu busuk!" teriak malaikat dengan gelegar suaranya.
"Engkau malaikat, katanya tak memiliki hawa nafsu, mengapa bicaramu keras selalu?"
"Aku tak sedang melampiaskan hawa nafsuku. Aku sedang memberikan penjelasan kepada orang yang kufur kepada nikmat Tuhan. Lihatlah bangsa ini menderita karena ucapanmu. Tak pantaskah kamu dihukum dengan kata-kata keras?"
"Huuu...huuuu...hiiii...hiiii...huuuu" hantu menangis, meratapi nasibnya. Tak disangka, kedudukannya dulu yang selalu ia kemukakan kini malahan menjerumuskannya. Lalu ia teringat rumahnya yang mewah, tempat anak cucunya hidup bersama, dan mengenang kejayaan masa lalunya, sambil terus mengusirnya ketika ia merindukan mereka. Sungguh ia kini membenci keluarganya yang telah melupakan dirinya dan terus saja merasa ngeri kepadanya. Ia ingin menghitung kembali jasa-jasanya, kebaikannya, yang membawa mereka semua menjadi keluarga yang mapan dan dihargai masyarakat.
Sungguh cepat perhitungan Tuhan, demikian hantu itu berpikir, menggunakan sisa-sisa nalarnya. Tak ada lagi penyesalan, karena ia bahkan tak tahu cara menyesal, seperti yang biasa ia lakukan semasa menjadi manusia dahulu. Yang ia tahu adalah masa depannya yang panjang seolah tak berujung, tak ada yang lain kecuali penderitaan dan siksaan batin.
Dan ketika ia mencoba mendatangi rumahnya untuk kesekian kalinya, karena ingin merasakan kehangatan dan kebahagiaan dari mereka yang dulu mengasihinya, kembali hantu tak bernama itu mengalami pengusiran. "Hiii...ada hantu! Bulu kudukku berdiri semua!" teriak si sulung hampir pingsan."Ibuuu...cepat kita usir hantu itu! Kita baca-bacain, yuk!" demikian berulang-ulang ia terima penolakan yang menyakitkan dari mereka yang biasa memujanya dahulu, walau sebesar apa pun kesalahan yang ia lakukan.
Sebuah pengusiran alangkah menyakitkan. Sementara, ia berkali-kali mengalaminya. Kata malaikat waktu, ia pun biasa mengusir orang-orang yang ingin meluruskan pendapatnya yang salah. "Tak ada yang perlu dibicarakan lagi, semuanya sudah menjadi keputusan final!" demikian teriaknya dahulu ketika ada tiga orang beriman dan tak berkedudukan datang hendak berkomentar dan meminta peninjauan ulang atas kata-katanya yang kejam dan tak berdasar.
Dari kejauhan hantu itu hanya bisa melihat dinding rumah yang ditempeli foto-foto besar yang dibingkai indah, sebuah pose keluarga. Ia melihat dirinya duduk di tengah keluarga, mengenakan peci hitam, dan berkemeja hitam, baju kesukaannya. Dan seperti mengetahui nasibnya yang akan datang, ia kini seolah selalu dalam balutan dunia hitam yang menyesakkan. Di dekatnya, foto-foto besar lainnya, menunjukkan pergaulannya yang luas, dengan sesama tokoh, para pejabat istana, apalagi terhitung penguasa negeri itu adalah keponakannya. Tapi itu semua masa lalu, yang tak indah untuk dikenang. Karena hanya jurang kepedihan yang kini menganga di hadapannya, sementara ia tak berair mata lagi, yang bisa mengurangi beban penderitaannya itu.
"Uuuuu...huuu...hiiii...hiii," hantu tak bernama kembali meratapi nasibnya. Kata malaikat, menjadi anjing itu merupakan ketentuan nasib yang lebih baik. Anjing sangat dekat dengan kehidupan manusia, dan kebanyakan manusia menyayangi anjing, binatang yang cerdas, berperasaan halus, dan tahu membalas budi ini.
Rasanya ingin benar ia menjadi anjing sekarang ini, sehingga ia bisa menggeser-geserkan tubuhnya ke kaki dan tubuh orang-orang yang dicintainya. Tapi jangan-jangan ia akan ditolak dan diusir lagi oleh mereka. Bukankah ia yang biasa mengajarkan untuk tak menyukai anjing? Tak perduli ada ulama yang menyebutkan ayat suci mengenai binatang yang duduk di surga, dan juga menjagai penghuni gua yang ditinggali orang-orang suci itu, ia tetap saja anti anjing. Titik.
Sungguh tak ada apa-apa lagi yang tersisa untuk bisa ia perbuat dan bahkan ia rasakan, untuk mengangkat sedikit saja penderitaan dan siksaan yang melingkupinya. Kata malaikat, akan masih lama sampai ia berubah kodrat ruhnya, menjadi makhluk yang lebih baik, lebih tinggi tingkatannya. Sementara, dahulu, ia pula yang suka merendahkan martabat orang -orang sederhana yang datang kepadanya untuk menyatakan kebenaran Tuhan yang tak pernah ia dengar sebelumnya.
"Mereka itu lebih rendah dari hewan!" demikian ia bisa berkata keras.
"Dan sekarang kaurasakan sendiri keadaanmu, seperti yang kaukatakan dahulu kepada orang-orang yang tak bersalah itu!" kata malaikat kepadanya.
Semakin hantu itu tak bisa membayangkan nasibnya ke depan. Baru dua minggu ini ia menjadi hantu, tapi ia sendiri merasakan sudah sangat lama, seakan telah berabad-abad ia menggeluti penderitaan dan siksaan itu. Kata malaikat lagi, masih lama sekali ia akan menjalani kehidupannya yang menyesakkan itu. Binatang seperti anjing atau kucing bisa memiliki masa kehidupan yang lebih pendek, setahun, atau bahkan sehari, atau mungkin paling lama sepuluh tahun. Jadi ada batasan waktu dalam kehidupan mereka itu. Setelahnya mereka bisa menapak dalam kehidupan yang lebih baik.
Tapi bagi hantu, tak berbatas waktu itu. Ia akan selalu menunggu, kalau-kalau ada raga yang bisa menampungnya kelak. Sesak sekali dirasakan oleh hantu bayangan-bayangan kehidupan yang serba gelap itu. Dan tak ada yang bisa ia lakukan lagi, kecuali melolong dan terus melolong meratapi nasibnya yang pedih dan penuh kesakitan.
Ditembusnya kegelapan malam karena ia tak pernah bisa tahan dengan sinar matahari. Disinggahinya lorong-lorong yang gelap sebagai satu-satunya tempat yang aman dan tak dirasakannya penolakan manusia. Dilaluinya udara yang dingin dan kerap membawa hujan lebat sementara ia sangat takut dengan gelegar petir itu.
"Uuuuu...uuuu...hiiiii....hiiii...,"bertahun-tahun kemudian, masih terdengar lolongan pedih hantu itu. Seakan tak pernah tua, dan tak akan berubah kodratnya. |