|
Tiga kamar mandi itu dulunya dua kamar mandi. Tak cukup untuk puluhan orang yang hendak bersuci atau sekedar buang hajat. Setiap orang harus mengantri lama sekali untuk mendapatkan gilirannya. Dan ketika pengantri itu masuk ke dalamnya, entah sudah berapa banyak keluhan atau bahkan umpatan dalam hatinya untuk dapat sekedar berhajat kecil di kloset yang sudah kusam itu. Sungguh tak berbahagia orang-orang yang masuk ke dalam kamar mandi yang kecil dan kusam itu. Tak sebanding dengan waktunya yang panjang untuk mendapat giliran menggunakannya.
Para malaikat di Surga bingung bagaimana menjaga keadaan orang-orang yang hendak bersuci di kamar mandi yang pengap itu. Mereka selalu khawatir, jangan-jangan orang malah tak suci begitu keluar dari kamar mandi.
Terbayang oleh mereka keadaan buruk yang setiap tahun harus terjadi. Betapa orang yang jumlahnya ratusan ribu atau bahkan jutaan harus berebut kamar mandi saat berhaji. Telah dibangun kamar mandi darurat yang banyak sekali, seolah bertebaran di segala penjuru, namun tetap saja orang berjubel, berdesak-desakan di depan kamar mandi, untuk buang hajat dan sekaligus bersuci. Lalu, ketika orang pada berebutan masuk, terdengar teriakan satu dua dari mereka.
“Huuu….joroknya!” kata seseorang yang baru keluar dari kamar mandi darurat itu.
“Ya ampuuuun…keterlaluan!” jerit orang yang masuk berikutnya.
Begitulah para malaikat sibuk mencatat kelakuan orang-orang yang mengumpat dan sekaligus menimbulkan keonaran di kamar mandi. Bayangkan, betapa menjijikkan dan tak suci melihat tumpukan kotoran manusia yang tak disiram, atau adanya beberapa pembalut wanita yang teronggok di sudut kamar mandi yang sempit atau menyumbat lubang kakus yang telah penuh sesak itu.
Sungguh para malaikat seolah tak berhenti menggelengkan kepalanya melihat kejorokan orang-orang yang tengah bersuci itu.
“Keadaan ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Bisa murka Tuhan gara-gara urusan kamar mandi,” kata satu malaikat dengan prihatin.
“Ya, betul. Padahal kan ada banyak kebobrokan dunia yang lebih pantas mendatangkan murka Tuhan. Masa, gara-gara kamar mandi saja Tuhan harus marah,” sambut malaikat lain, yang sepertinya ingin memijati kepalanya saking kepusingan memikirkan ulah manusia.
Pengalaman buruk di tempat-tempat suci telah membuat para malaikat berpikir keras agar tak melihat hal yang sama memedihkannya. Mereka berharap dua kamar mandi yang sekarang dijejali orang-orang untuk bersuci itu segera menjadi keprihatian para manusia penggunanya, sehingga mereka mau menjadikannya sebagai kamar mandi yang indah dan layak pakai. Maklum, kegunaannya untuk bersuci itulah yang menjadikan para malaikat itu berharap cita-citanya menjadi kenyataan.
“Seharusnya mereka mencari tukang bangunan khusus untuk merenovasi kamar mandi itu,” kata para malaikat, sambil berkerumun menontoni antrian panjang belasan orang yang hendak menggunakan dua kamar mandi itu, di suatu pagi.
“Tapi tukang bangunan yang bagus di zaman sekarang selalu menuntut gaji mahal. Nggak kira-kira, mereka itu. Masa, sehari minta digaji seratus ribu. Yang bener aja. Yang jelas, mana mungkin orang-orang ini mampu menggaji tukang semahal itu,” malaikat yang lain menyambut ucapan temannya.
“Kalau saja manusia tahu, betapa membayar tukang untuk sekedar membangun kamar mandi itu dapat menyelamatkan kehidupan mereka, tentu mereka ini akan pada berebutan ingin menyumbang,” kata malaikat yang sedang berkelililing di antara orang-orang yang tertidur, saking lamanya menunggu giliran.
“Jangankan menyumbang, mereka ini kan boleh dikata tergolong kaum dhuafa, tak berpunya. Tidakkah kalian lihat, tak ada lembaran uang dalam dompet mereka? Mereka itu gayanya saja, membawa dompet ke sana kemari, padahal sih isinya kosong, atau paling tidak dua tiga ribu perak!” malaikat satunya lagi, yang sering mengirimkan berkah Tuhan urun bicara.
Tersenyum para malaikat mendengar komentar yang terakhir ini. Sudah bukan berita baru soal dompet kosong- yang ukurannya bisa kecil ataupun besar, yang ditenteng oleh orang-orang yang suka bersuci ini. Bukannya mau bohong atau berpura-pura. Mereka ini hanya sering lupa apakah sedang memiliki uang atau tidak. Karena uang sebesar lima atau sepuluh ribu itu sudah merupakan jumlah yang sangat berharga.
Memang sih, terkadang ada juga uang yang mampir sebesar sejuta rupiah, namun cepat betul uang itu menguap. Karena rupanya Tuhan tak pernah mengizinkan uang itu berlama-lama dalam dompet mereka yang sering rindu diiisi itu.
“Kalau tak dijadikan amal ibadah, nanti malah diambil malaikat,” kata salah satu dari mereka. Ia adalah seorang ibu dua anak yang sedang bekerja keras membanting tulang karena suaminya kena PHK. Dalam keadaan terpuruk, ia harus pindah rumah, mencari kontrakan baru, karena satu-satunya rumah yang dimilikinya telah dijual dan uangnya ludas untuk membayar hutantg-hutang suaminya. Hanya memiliki beberapa lembar uang kertas, ia berniat membeli beberapa keperluan anaknya.
“Uang tabunganku satu-satunya itu eh malah nggak ada!” katanya bingung. Sudah ia simpan rapat-rapat uang itu dalam buku hariannya. “Aku sudah merasa, Malaikat Jibril-lah yang mengambilnya,” kata Ibu muda bernama Vatila itu.
“Masa, malaikat kok ngambil uang segala,” kata teman sekantor Vatila, saat mendengar penuturan temannya itu.
“Lho memangnya kenapa? Kalau Tuhan memang ingin mengajari manusia agar ia tak pelit, apa susahnya menyuruh malaikat melakukan itu?”
“Kalau begitu apa nggak susah membedakan kerja malaikat dengan tuyul?”
“Uang yang dicuri jin atau tuyul biasanya uang panas, alias tak jelas kehalalannya. Tak ada pengajaran khusus di sana. Tapi kalau malaikat yang melakukannya, pasti ada penjelasannya,” kata Vatila sambil tertawa.
“Lalu, apa penjelasannya untukmu?” kata teman sekantornya yang heran melihat Vatila kehilangan uang satu-satunya, namun tetap tenang-tenang saja.
“Masalahnya, ketika aku berdoa dan memohon ampun kepada Tuhan, dan meminta uang itu dikembalikan, dan kemudian berjanji untuk tak terlalu memikirkan segala kebutuhan anakku, dan merelakan uang itu untuk dibelanjakan di jalan-Nya, mendadak uang itu kembali ke tempatnya semula.”
“Terus kauapakan uang itu?”
“Ya, sudah, kuberikan kembali kepada Tuhan. Aku hanya mengambil selembar saja.”
Demikian Vatila kemudian membelanjakan berbagai keperluan untuk pembangunan kamar mandi itu. Berarti sejumlah bahan bangunan sudah tersedia. Namun bagaimana mengadakan tukang? Itulah yang menjadi keprihatinan bersama. Juga para malaikat. Masalahnya kamar mandi itu harus menjadi tempat yang layak untuk bersuci. Jadi selain dibangun dengan indah, mereka pun harus dijamah oleh tangan-tangan yang suka bersuci. Padahal orang-orang itu, yang tiap hari berdiri antri hendak menggunakan kamar mandi bukan orang-orang yang mengerti soal bangunan, apalagi berprofesi sebagai tukang bangunan.
“Kalau saja ada orang yang mau jadi tukang bangunan tapi tak mencari uang dari pekerjaannya itu, alangkah asyiknya,” kata salah satu malaikat yang prihatin.
“Yaa..manusia macam begitu tentulah orang yang sudah kaya, mapan dengan kehidupannya. Sedangkan, mana mungkin ada orang kaya yang mau jadi tukang bangunan?” sahut malaikat yang selama beberapa bulan terakhir sibuk mengamati kehidupan para konglomerat yang tetap merasa kaya walaupun terancam pailit.
Maka, para malaikat itu berembug ingin membuka lowongan kerja bagi pembuat kamar mandi dengan iming-iming yang menggiurkan, yaitu Surga.
“Apa manusia akan percaya, hanya dengan membuat kamar mandi, sudah mendapat bayaran Surga,” kata malaikat yang lain.
“Lho, kenapa tidak? Kan orang yang beriman itu hanya bercita-cita masuk Surga? Jadi semusykil apa pun persayaratannya, kalau itu memang berasal dari Tuhan, tentulah mereka bisa percaya,” sahut malaikat yang suka menyebut dirinya bernama Zentana.
Maka kesepakatan itu pun menjadi keputusan rapat para malaikat. Keesokan paginya, mendadak terpampang selembar pengumuman di depan kamar mandi. Bunyinya: Barang siapa ingin menjadikan dirinya suci dan menjadi penghuni Surga yang suci, maka bangunlah dua kamar mandi itu menjadi tiga. Sesungguhnya kamar mandi adalah tempat untuk bersuci. Maka keadaannya pun harus suci. Maka, pembangunannya pun harus diupayakan oleh tangan-tangan yang suci. Bagi mereka yang bekerja, tak diizinkan memungut bayaran. Kami, para malaikat, akan membantu terselenggaranya tempat suci ini.
Para pengantri kamar mandi terbengong-bengong membaca pengumuman yang entah dari mana datangnya. Mereka pun bingung, siapa yang mau bekerja tanpa dibayar sepeser pun? Tapi berarti pula yang mau bekerja tanpa pamrih itu bukankah akan masuk Surga? Demikian orang-orang yang hendak bersuci itu membicarakan pembangunan kamar mandi seperti yang diusulkan para malaikat itu. Alkisah, pengumuman ajaib itu segera tersebar ke seluruh penjuru kota. Banyak orang ingin coba-coba, tapi mereka juga takut kualat. Misalnya di tengah pembangunan kamar mandi mereka kehabisan uang dan harus mencari penghasilan agar bisa terus hidup, sementara pembangunan itu tak boleh dihentikan sekejap pun alias harus dikerjakan secara terus menerus. Sementara dua kamar mandi yang ukurannya memang kecil itu harus pula dijadikan tiga buah. Agak mustahil memang.
“Kalau berhenti bekerja, jangan-jangan kita malah masuk Neraka?” kata seorang kepala rumah tangga yang sangat ingin melakukan pekerjaan mulia itu.
“Yaah, memang hanya orang kaya yang bisa mengerjakan itu,” kata istrinya.
“Mana ada orang kaya yang mau tangannya belepotan semen,” kata suaminya lagi.
Dari ujung kota, ada sepasang kakak-adik yang merasa terdorong untuk pergi ke dua kamar mandi yang selalu ramai dikunjungi orang yang hendak bersuci itu. Dua bersaudara yang tak muda akhirnya sampai ke tempat yang diperbincangkan orang-orang itu.
“Sebenarnya sih, gampang-gampang susah mengerjakan kamar mandi itu,” kata yang lebih tua, sambil berkacak pinggang. Dari bibirnya keluar tawa renyah meriah, yang menggelitik hati dan telinga orang-orang di sekitarnya.
“Yang penting hati harus ikhlas dan suci,” kata yang lebih muda, sambil tersenyum lebar.
Belakangan diketahui sepasang bersaudara ini ternyata memang suka tertawa ramai, terkadang sering mengagetkan orang-orang yang ada di sekitarnya. Dan ternyata pula, keduanya mengaku sebagai raja.
“Raja atau keturunan raja?” kata salah seorang yang baru mendengar keadaan status keduanya itu.
“Raja! Mereka sendiri yang mengatakannya!” jawab orang yang mengaku mendengar langsung dari mulut dua bersaudara itu.
“Berarti mereka itu orang-orang kaya, ya? Tapi apa nama kerajaannya? Rasa-rasanya tak ada lagi nama kerajaan yang masih berdiri di negeri ini,” seru salah seorang pengantri, yang mendadak seperti lupa dengan desakan di perutnya untuk membuang hajat besar. “Bisa jadi mereka raja di zaman dahulu. Soalnya yang tua itu suka mengatakan, ‘Dulluuuu…itu dulluuu!’” kata seseorang yang juga mendengar langsung pembicaraan dua bersaudara itu.
“Oooh…pantaaass! Dari kemarin mereka seperti ingin membuktikan kekuatannya. Rupanya mereka itu raja-raja yang gagah perkasa!” kata seorang ibu pengantri. Lupa ia bila harus segera bersuci, sementara pintu kamar mandi sudah terbuka lebar menantinya.
“Hai, cepetan masuk! Ingat ya, sama yang antri di belakang,” kata suaminya agak jengkel. Sedari tadi sang suami ini mengalah untuk berdiri di belakang istrinya, demi tak mengganggu kepentingan istrinya untuk bersuci. Sedangkan ia sendiri hanya ingin buang hajat besar.
Tak disangka-sangka kedua raja itu melamar jadi tukang bangunan. Mereka menyatakan niatnya itu kepada malaikat pembuat pengumuman. Orang-orang heran alang kepalang, ada dua orang raja yang ingin menyamar jadi tukang bangunan. Mereka sepertinya sudah ingin melupakan dunia, menanggalkan segala status dan kehidupan mereka yang menyenangkan sebelumnya.
“Habis ingin mendapat Surga, sih!” kata raja yang muda dengan tawanya yang berderai.
Selama beberapa waktu kemudian, dua kamar mandi hampir-hampir tak bisa dipakai lagi. Tak ada lagi antrian panjang setiap harinya. Yang tampak adalah kerja keras kedua bersaudara yang mengaku raja itu. Buukkk…bukkk…buukkk…bukkk…bersahut-sahutan bunyi martil mereka merobohkan dinding-dinding kamar mandi yang telah lapuk. Berulangkali mereka melap keringatnya yang mengucur dari dahi dan kepala mereka. Tak terkatakan lagi, baju mereka yang kuyup bagaikan habis terkena siraman air hujan. “Minum dulu, aahh!” kata raja yang tua.
Sang adik hanya melirik kepada kakaknya. “Dari tadi minum melulu!” demikian hatinya memberengut. Diteruskannya pekerjaannya membobok dinding itu. Dilihatnya kemudian kakaknya duduk sambil mengipasi tubuhnya. Di tangannya ada hamburger yang mereka beli tadi pagi. “Huuh, malah enak-enakan makan!” kata hatinya yang bertambah kesal. Raja yang lebih muda ini memang kelihatan lebih tua, mungkin jenuh memikirkan kelakuan raja yang lebih tua yang dianggapnya tak sejalan dengan hatinya.
“Okee…mari kita bekerja lagi! He…he…he…” ujar sang kakak gembira. Diraihnya alat pertukangannya lagi. Tak disuruhnya adiknya untuk minum atau makan. Ia pikir, masing-masing dari mereka, apalagi laki-laki yang sudah dewasa, tak perlu saling mengingatkan untuk menjaga perut dan kerongkongannya.
Dalam beberapa hari kedua raja sudah mulai memasang ubin dan dinding kamar mandi. Dinding yang baru terbuat dari keramik yang indah, sumbangan dari Vatila, ibu dua anak yang kebetulan dikenal baik oleh si raja tua.
“Semoga ia berpahala dengan sumbangannya ini. Semoga Tuhan menjadikannya perempuan suci teladan zaman, demikian pula anak-anaknya,” kata raja tua dalam doanya, sambil menimang-nimang keramik sumbangan Vatila. Raja yang lebih muda melirik ke arah saudaranya, seolah tak terlalu percaya dengan ketulusan doa sang kakak.
Membangun satu kamar mandi ternyata tak mudah. Dengan kekuatan yang tak terlatih sebagai tukang bangunan, ditambah kebiasaan hidup yang serba enak, membuat kedua raja mulai ngos-ngosan setelah waktu seminggu berlalu. Masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan satu kamar mandi. Sementara tangan mereka sudah melepuh, beberapa bagian tergores pecahan-pecahan dinding yang terpental ke arah mereka.
Yang tak pernah terpikir oleh keduanya adalah para malaikat yang menyuruh mereka bekerja itu suka sekali menghardik. Hanya karena ingin sedikit bersantai-santai, atau melongok acara televisi yang ada di rumah seberang kamar mandi, akan dirasakan oleh keduanya hukuman yang sepertinya tak sebanding dengan kesalahan yang mereka buat.
“Itulah kalau terbiasa hidup enak dan tak suci! Segalanya mau cepat selesai saja!” sang malaikat penghulu Surga menghardik raja tua. Jelas terdengar suaranya, di hati dan telinga sang raja.
Begitu pula terhadap adiknya, malaikat ini seperti tak ingin berhenti marah. “Kalau bekerja yang ikhlas. Jangan hanya mau kerja kalau dilihat orang. Kamu tahu kan, sekarang tak ada lagi orang yang berkerumun di depan kamar mandi. Jadi, bekerjalah sendiri dengan baik, dengan hati yang suci! Dasar raja manja!”
“Malaikat kok marah-marah, sih?” berbisik raja yang muda kepada kakaknya. Hatinya masih memberengut lantaran kata-kata tajam sang malaikat
“Sudah, sudah, jangan ngomel. Ntar dimarahi lagi. Ntar kualat lagi!” kata raja tua sambil berupaya keras menundukkan hatinya agar dapat terus bekerja. Kamar mandi belum lagi setengahnya selesai, tapi tenaganya seperti sudah habis terkuras.
Seminggu kemudian kedua raja sudah mulai memasang bak mandi. Lempengan-lempengan batu yang mereka pasang sebagai ubin, mereka gunakan pula untuk membuat dinding bak mandi. Sebuah pekerjaan yang tak mudah bagi keduanya. Apalagi bentuk bak mandi itu bulat. Lempengan-lempengan batu itu harus dikecilkan dulu ukurannya sehingga bisa tertata dengan rapi pada dinding bak mandi. Sampai malam hari mereka terus bekerja.
Alangkah lega hati keduanya ketika kamar mandi pertama selesai dalam waktu tiga minggu. Sungguh tak terperi kebahagiaan dua raja. Mereka serasa ingin menyelonjorkkan sekujur tubuhnya selama beberapa waktu karena telah merasa santai hati mereka.
“Apa-apaan ini?” terdengar hardikan suara keras yang membangunkan lamunan kedua raja. Keduanya terhenyak dalam duduk. Wajah mereka yang letih mendadak menjadi tegang.
“Bak mandi model apa ini? Jangan begitu dong, cara kalian kerja!” malaikat pengontrol kamar mandi mulai buka suara lagi. Sungguh pusing keduanya mendengarkan omelan sang malaikat.
“Ayo bongkar bak mandi ini! Atau kalau kalian bisa, rapikanlah! Tapi aku tak mau melihat kamar mandi yang amburadul begini! Sudah lantainya tak rata, sekarang malah bak mandinya kalian bikin sembarangan!”
Buyarlah rencana kedua raja untuk cuti kerja beberapa saat. Dengan langkah gontai mereka berjalan menuju kamar mandi pertama, yang sepintas sudah tampak gemilang, jauh dibanding dengan keadaannya yang kusam dahulu. Keduanya kemudian berjongkok, mengamati dinding bak mandi yang dikatakan amburadul itu. Seolah semakin habis tenaga mereka memikirkan pembongkaran yang harus dilakukan.
“Kita rapikan saja pelan-pelan,” kata sang adik kepada raja tua. “Daripada harus membongkar, sayang kan bahan bangunannya.” “Sebaiknya begitu,” ujar raja tua. Suaranya terdengar sendu dan lesu.
Esoknya kedua raja mulai bekerja lagi. Sambil mengikis dan mengamplas pelan-pelan, mereka merapikan bak mandi. Keduanya pun membayangkan pekerjaan yang menumpuk untuk dua kamar mandi berikutnya.
“Dosa kita apa ya, kok sampai sebegini nasib yang harus kita terima?” kata sang adik memelas.
“Sudahlah. Dosa apa saja, yang penting kita tebus sekarang,” kata raja tua dengan suaranya yang keras, pertanda kekuatannya mulai terhimpun.
Tiga hari kemudian kamar mandi pertama selesai direvisi. Para malaikat dengan terpaksa menerima hasil kerja mereka.
“Untuk bisa masuk Surga, kalian harus mengerjakan jauh lebih baik pada dua kamar mandi berikut. Ingatlah, kalian bekerja untuk Tuhan, dan bukan siapa-siapa!” demikian kata malaikat pengontrol kamar mandi.
Tak ada lagi waktu untuk bersantai. Apalagi ketika satu kamar mandi telah selesai, orang-orang pun mulai berdatangan lagi untuk menggunakannya. Mereka pun sering menanyakan kapan kamar mandi berikut selesai.
Ketika membangun kamar mandi yang berikutnya, kedua raja yang tak pernah menjadi tukang itu mulai mengenal seluk beluk ilmu bangunan. Raja tua jadi rajin berbelanja ke toko material dan memilih segala keperluan yang dibutuhkan untuk penyelesaian kamar mandi. Orang-orang pun mengeluarkan uangnya, sedikit demi sedikit, untuk dibelanjakan sebagai bahan bangunan.
Tak selama pembangunan kamar mandi pertama, kamar mandi kedua segera tampak berdiri dengan indah. Kedua raja tersenyum puas memandangi hasil pekerjaannya. Orang-orang pun pada melongok ke kamar mandi yang masih mengkilap itu.
“Bagus, ya. Rapi, ya,” terdengar decak kagum dari beberapa orang.
“Apa-apaan ini? Kok saluran airnya nggak bekerja lancar. Ayo, cari sebab musababnya!” lagi-lagi malaikat pengontrol kamar mandi menghardik. “Aku kan sudah bilang, bekerjalah sepenuhnya untuk Tuhan. Ikhlaslah, sucilah, sehingga tak banyak kerusakan di sana sini. Ketika dunia ini rusak, itu tandanya manusia tak suka lagi menghadapkan wajahnya ke Tuhan!”
Pupus lagi kegembiraan kedua raja yang baru akan mengembang. Kebanggaan mereka akibat pujian sejumlah orang yang melihat dua kamar mandi baru itu berubah menjadi kekecewaan.
Keduanya lagi-lagi harus membongkar kamar mandi yang sudah selesai. Saluran air yang sudah terpasang harus dirapikan kedudukannya sehingga tak menyebabkan air buangan dari kamar mandi tersumbat. Keduanya tak berkata-kata banyak selama bekerja. Mereka kini merasakan betul arti tangan dan hati yang suci, seperti dipersyaratkan malaikat pada lembar pengumuman dulu.
Malaikat tak berucap apa pun ketika kamar mandi kedua selesai. Kedua bersaudara itu kemudian melanjutkan membuat yang ketiga. Hampir habis tenaga mereka, dalam arti yang sesungguhnya. Namun tak berani sedikit pun mereka mengeluhkannya. Keduanya hanya seperti terus didorong dan didorong untuk bekerja menyelesaikan tanggung jawabnya.
Sekitar tiga minggu kemudian kamar mandi ketiga selesai. Meski demikian, kedua raja itu terus saja bekerja, merapikan apa saja yang bisa dirapikan. Mereka seperti tak berani mendongakkan wajahnya dan bertanya kepada malaikat mengenai hasil kerja mereka. Komentar dan puji-pujian orang yang lalu lalang di hadapan mereka pun sudah mereka rasakan menjadi ancaman.
“Nnaaah! Ini baru kamar mandi beriman!” teriak malaikat gembira.
Kedua raja terperanjat mendengar pujian yang membingungkan itu.
“Lihatlah! Lihatlah wahai para manusia, lihatlah dindingnya, lihatlah lantainya, lihatlah bak mandinya, lihatlah klosetnya, lihatlah semuanya. Kamar mandi ini seperti ingin berbicara dan berterimakasih dirinya telah dibangun dengan hati dan tangan-tangan yang suci. Sehingga ia pun ingin berfungsi dengan baik bagi orang-orang yang bersuci,” kata malaikat.
Kedua raja hanya tertunduk malu. Sungguh mereka malu dinyatakan yang seperti itu karena sudah begitu lama keduanya menginginkan komentar baik dari malaikat, dan setelah usia mereka yang tak muda lagi, baru kali ini mereka mendapatkannya. Silih berganti orang mendatangi kamar mandi ketiga dan mereka berdecak kagum melihat hasil kerja kedua raja yang kali ini benar-benar mulus dan gemilang.
“Kalau begitu, akan kucatat nama kalian. Nanti akan kulaporkan kepada malaikat ketua,” kata Zentana, malaikat yang terkenal lucu.
Kedua raja tertunduk malu. Keduanya sudah merasa akan mendapat jatah tiket ke Surga.
“Raja tua, siapa nama lengkapmu?” kata Zentana.
“Rahwana.”
“Kalau kamu,” kata sang malaikat kepada raja muda.
“Raja Herodes.”
“Bagus Raja Rahwana… eh… kok kamu sudah tak seperti raksasa lagi sih?” kata Zentana seperti menahan gelak. “Dan kau Raja Herodes, bersiaplah memenuhi panggilan Tuhan bila waktu kalian sampai. Aku akan segera ke tempat malaikat ketua.”
Dari jauh, malaikat penghulu Surga seolah sedang tersenyum simpul. Sudah lama ia ingin menjerat kedua raja itu ke dalam pelukannya.
Mahoni, 20 Mei 2004 |