|
Satu misteri Tuhan terbuka, Regulasi Ruh menjadi pembuka pintu pengetahuan bagi umat manusia untuk mengenal sistem dan cara kerja Tuhan dengan seluruh makhluk-Nya. Regulasi Ruh menjadi keyakinan dasar bagi kaum Eden karena di dalam regulasi ruh inilah tersimpan penjelasan Tuhan tentang misteri kehidupan manusia dan seluruh makhluk-Nya.
Sepanjang zaman manusia mempertanyakan hakikat kehidupan. Tidak ada kejadian di alam semesta yang terjadi secara kebetulan dan setiap peristiwa tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa kait-mengkait dengan peristiwa yang lainnya.
Regulasi Ruh menjelaskan tentang kehidupan ruh yang terus bergulir di dalam keabadian. Sesungguhnya seluruh alam materi yang kita lihat di dunia memiliki ruh, mulai mikroba yang paling kecil, tumbuhan, hewan, manusia, sampai planet-planet yang berada di galaksi. Bukan hanya makhluk yang bermateri, makhluk-makhluk gaib semisal malaikat dan iblis pun memiliki ruh. Dan semuanya mengalami perguliran mengikuti hukum Tuhan di dalam Regulasi Ruh.
Di Eden, Malaikat Jibril menjelaskan tentang Regulasi Ruh sebagai serumpun ilmu Tuhan yang diturunkan dalam takdir-Nya di akhir zaman. Ilmu itu menjelaskan tentang perguliran dan evolusi ruh di alam semesta. Tiada sebuah kedudukan ruh yang menetap karena setiap ruh senantiasa bergulir dan berevolusi; ruh manusia dapat menempati fisik binatang setelah kematiannya, ruh malaikat dapat turun menjadi manusia, ruh manusia dapat menjadi malaikat, ruh iblis dapat menjadi binatang, dan seterusnya. Semuanya ada di dalam mekanisme sistem Tuhan yang sedang dijelaskan oleh Malaikat Jibril pada saat ini.
Terbukanya Regulasi Ruh menjawab pertanyaan umat manusia tentang hakikat kehidupan yang menjadi pertanyaan sejak manusia menggunakan pikirannya. Regulasi Ruh menjawab tentang keadilan Tuhan yang telah menjadi pertanyaan umat manusia sepanjang zaman. Demikian pula, Regulasi Ruh menjelaskan tentang doktrin-doktrin agama yang sebelumnya tak dapat dijelaskan melainkan hanya diimani saja, semisal dunia malaikat, iblis, surga, neraka, alam akhirat, kiamat.
Di dalam Regulasi Ruh, Malaikat Jibril menjelaskan bahwa manusia dapat sampai pada kemuliaan dan martabat yang sangat tinggi di sisi Tuhan kala ruhnya dibangkitkan menjadi ruh cahaya bersama para malaikat, menjadi perintah Tuhan. Keadaan itu disebutkan Malaikat Jibril sebagai keadaan surga yang hakiki. Dan tiadalah ruh seorang manusia dapat menjadi ruh cahaya bila tak mencukupi tabungan pahala yang sangat banyak. Hanya mereka yang memiliki kebajikan murni yang dapat dibangkitkan di kalangan malaikat.
Ruh seseorang menjadi cahaya bila di dalam kehidupannya dia senantiasa menautkan segala kehendak dan keinginannya pada keinginan dan kehendak Tuhan semata. Hasratnya tak lagi terpenjara oleh keinginan dan hasrat materi yang menjadi tubuhnya. Bila seseorang dapat melepaskan dirinya dari keinginan terhadap keduniawian dan senantiasa terpaut keinginannya hanya pada Zat yang Tak Terhingga, maka setelah kematiannya dia akan menjadi cahaya bersama malaikat. Karena itu Malaikat Jibril menasihatkan agar mengutamakan Tuhan di atas segalanya, agar manusia sampai pada surga yang hakiki, hidup diantara para malaikat.
Sesungguhnya di dalam diri manusia banyak potensi nafsu: nafsu syaithani, nafsu hewani, nafsu insani dan nafsu malaikati. Diantara seluruh nafsu-nafsu itu manakah yang paling mempengaruhi kehidupan, yang paling dominan, paling menentukan keinginan, harapan, dan perilaku; di situlah nilai manusia saat ini dan bayangan kehidupan ruh di masa depan.
Bila nafsu syaithani yang paling besar, dalam hidup seseorang melakukan kekejian yang terus-menerus, sedangkan dia tak pernah merasa bersalah dan berdosa oleh perilaku itu, sedangkan suara nurani tak pernah terdengar olehnya seakan telah mati, sehingga tak ada kesadaran bagimu untuk bertaubat, karena merasa perbuatan yang dilakukan itu adalah baik, maka hendaklah dia takut kelak akan dibangkitkan di kalangan syetan karena kehidupan yang sesuai dengan kehidupan ruhnya adalah bersama-sama kehidupan syetan.
Bila seseorang melakukan demikian banyak kekejian dan dia tak pernah merasa bersalah dengan perbuatannya itu, maka sesungguhnya demikianlah syetan, jiwanya adalah struktur kejahatan itu sendiri. Dan bila ruhnya dibangkitkan di dalam kalangan syetan dan menjadi syetan, maka itulah neraka akhirat, neraka jahanam yang menyala-nyala dan dialah yang menjadi api itu sendiri.
Demikian sebaliknya seseorang dapat dibangkitkan menjadi hewan yang buas maupun melata jika jiwanya terpenjara oleh nafsu kebinatangan sedangkan dia tak dapat melepaskannya. Dan bila dia dibangkitkan di kalangan binatang, maka sesungguhnya nerakalah itu pula baginya.
Dan bila dalam hidup seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh nafsu insani, dan kebaikan, serta tanggung jawab, namun dia masih banyak melakukan dosa. Dan bila ditimbang ternyata dosanya itu lebih banyak daripada kebaikannya, maka dimungkinkan kelak setelah kematian dia akan dibangkitkan di kalangan manusia, tetapi dia tak lagi berharkat dan bermartabat sebagaimana kehidupannya sebelumnya. Bisa saja dia dibangkitkan di kalangan keluarga yang miskin.
Namun bila di dalam penderitaan dan kemiskinan dia tetap bersabar dan lapang hati, sedangkan kebajikannya lebih banyak dan kemalaikatannya lebih dominan, maka dimungkinkan dia kelak akan dibangkitkan menjadi orang yang mulia dan bermartabat. Atau dia dibangkitkan menjadi orang yang saleh, kekasih Tuhan dari kalangan nabi maupun wali.
Demikianlah perimbangan Tuhan terhadap dosa dan pahala. Sungguh tiada kebaikan yang tidak dibalas Tuhan walaupun kebaikan itu sebesar atom sekalipun. Begitu pun halnya dengan kejahatan yang dilakukan; seberapa pun kecilnya kejahatan yang pernah dilakukan niscaya Tuhan akan mengganjarkannya sebesar apa yang telah diperbuat seseorang.
Demikian sesungguhnya; apapun yang terjadi dalam kehidupan, baik itu kelapangan atau kesempitan, sakit maupun sehat, semuanya adalah pantulan dari perbuatan baik yang dilakukan pada kehidupan saat ini maupun kehidupan sebelumnya.
Kebaikan yang pernah kita lakukan niscaya akan memantulkan kebahagiaan sebesar kebaikan yang pernah kita lakukan. Bila kita pernah menolong orang yang sedang di dalam kesulitan, suatu saat kita pun akan ditolong oleh orang lain saat kita mendapatkan kesulitan. Sebaliknya, bila kita sering mendapatkan kepedihan dalam hidup, mungkin dahulu kita sering membuat sakit hati orang lain dan yang kita rasakan saat ini adalah tuaian dari dosa masa lalu yang kita lakukan. Tiadalah seseorang itu mendapatkan celaka dan malapetaka bila bukan karena dia dahulu pernah membuat celaka orang lain.
Demikianlah balasan Tuhan itu niscaya setimpal dengan perbuatan. Disebabkan kejahatan kita maka kita pun ditimpa kejahatan dan musibah setimpal dengan yang kita lakukan. Demikian hukum sebab dan akibat itu menjadi sistem dan cara kerja Tuhan di dalam memutar roda kehidupan semesta-Nya. Akan tetapi, hal ini seringkali tidak disadari oleh manusia sehingga manusia sering menyalahkan Tuhan di dalam kodrat dan nasibnya.
Yang harus kita sadari adalah bahwasanya balasan Tuhan terhadap kebaikan maupun kejahatan kadangkala tidak dalam waktu yang sesaat yang dapat dilihat dan disaksikan akibatnya. Terkadang balasan kebaikan dan kejahatan itu tertunda sampai kurun waktu berikutnya di dalam kehidupan yang lain.
Demikianlah, hanya di sisi Tuhan terletak perimbangan-perimbangan pembalasan kebaikan dan kejahatan. Hanya Tuhan lah Yang Maha Mengetahui kapan tibanya balasan setiap kebaikan dan kejahatan itu terlaksana. Namun yang pasti, tiadalah Tuhan menzalimi hamba-Nya.
Untukmu kebaikan yang kamu lakukan dan untukmu pula kejahatan yang kamu lakukan dan tiadalah Tuhan mengambil keuntungan dari kebaikanmu maupun kejahatanmu karena dialah Tuhan yang Maha Kaya yang tak membutuhkan apa-apa darimu. Itulah pengajaran Malaikat Jibril di Eden mengenai sistem Tuhan di dalam semesta-Nya.
Dan sesungguhnya demikianlah keadilan Tuhan. Maka dari itu, Malaikat Jibril senantiasa menasihatkan agar menghiasi kehidupan dengan kebaikan selalu dan jangan pernah secara sengaja melakukan kejahatan. Karena bila yang ditanam adalah kebaikan maka niscaya yang dipanen pun adalah kebaikan pula. |