|
Tiadalah seorang pun diantara kaum Eden yang berbeda satu sama lainnya di hadapan Tuhan. Mereka semua adalah hamba-hamba-Nya yang berdiri setara di hadapan-Nya. Tak ada pemimpin di Eden yang mendapatkan pengistimewaan-pengistimewaan di dalam ujian Tuhan. Ketika Jibril memerintahkan untuk bekerja, semua orang bekerja tanpa kecuali. Ketika Jibril memberikan ujian pensucian, semua orang mengalami pensucian tanpa pandang bulu. Bahkan para pemimpin mendapatkan ujian-ujian pensucian yang lebih berat daripada yang dipimpinnya.
Sesungguhnya, Malaikat Jibril mengajarkan di Eden keegaliteran. Tak ada kasta atau kelas manusia di Eden. Malaikat Jibril menempatkan seluruh muridnya sama di hadapannya, adakah di masyarakat menjadi direktur, pembantu, atau ibu rumah tangga; adakah dia seorang profesor atau yang tidak tamat SD. Yang membedakan di antara mereka adalah keimanan dan kesuciannya.
Tak ada sebuah pujian yang melekat terus menerus pada seseorang karena pujian Tuhan datang ketika seseorang berhasil menggapai prestasi pensucian diri. Tetapi ketika dia gagal di waktu yang lain, maka teguranlah yang diterima olehnya. Demikian pula, penyesalan terhadap sebuah kesalahan niscaya mendapat berkah kasih sayang dari Tuhan. Hukum tentang pujian, teguran, dan penyesalan itu berlaku bagi siapapun di Eden.
Seorang pemimpin di Eden dipilih Tuhan bukan karena kecerdasan atau kekayaannya, melainkan karena kesungguhan pensucian dan pengabdiannya. Dia dicintai oleh orang-orang yang dipimpinnya bukan karena kedudukannya, tetapi karena akhlak dan pensucian yang dicontohkannya. Walaupun kecintaan itu tulus, tetapi tetap saja Tuhan mengajarkan agar tak berlebihan di dalam penghormatan. Di Eden, penghormatan yang berlebihan tak diperkenankan, apalagi pemujaan yang mengarah pada pengkultusan. Karena sesungguhnya Tuhan sedang ingin meruntuhkan segala bentuk pengkultusan yang kini melanda sebagian besar umat beragama.
Sesungguhnya banyak diantara umat manusia yang mengkultuskan orang-orang alim/suci. Malaikat Jibril menasihatkan untuk tak mengkultuskan mereka, bahkan kepada para nabi pun terlarang untuk mengkultuskannya. Adakah manusia sekalian dapat melihat kehendak dan rencana Tuhan yang memilih sosok yang dipilih-Nya seorang wanita, ibu rumah tangga, perangkai bunga dan selebriti; bukan dari kalangan agama atau kaum spiritual yang berkhidmat mendalami agama?
Nasihat Malaikat Jibril, baik-baiklah membaca rencana dan kehendak Tuhan di akhir zaman dengan pilihan-Nya. Tuhan memilih seorang wanita yang sangat terbuka, sehingga tak ada satu pun yang sanggup disembunyikan dan yang tak dibicarakan olehnya, yang bekerja sangat cepat sehingga selalu ditegur terus menerus karena sifatnya yang terburu-buru.
Sungguh, seluruh sifat dan karakter Bunda Lia adalah sebagaimana kebanyakan orang pada umumnya. Bila dia hendak tertawa, tertawanya sangat lepas hingga terdengar sampai jauh. Dia seorang wanita yang sangat jujur, polos, terbuka apa adanya dan tak ada yang disembunyikan. Dengan karakternya yang demikian, Tuhan menjadikannya panah kebenaran yang melesat dengan sangat kencang dan sanggup menerobos rintangan apapun demi terlaksananya apa-apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya.
Di dalam pengajaran Tuhan tentang keegaliteran, tiadalah Tuhan memberikan suatu hak khusus kepada kelompok tertentu. Tiada sekelompok orang yang mendapatkan jaminan keselamatan, tiada pengutamaan jenis kelamin tertentu, tiada pula keutamaan satu suku, bangsa, atau penganut agama tertentu. Semuanya berdiri sejajar di hadapan Tuhan dan harus berlomba-lomba di dalam amal kebajikan.
Tiadalah kaum laki-laki menjadi kelompok yang diutamakan Tuhan sebagaimana keyakinan sebagian pemuka agama. Tuhan membuktikannya dengan mengutus seorang wanita untuk menjadi utusan-Nya di akhir zaman ini sebagai bukti keadilan dan pernyataan nyata Tuhan yang tidak menjadikan perempuan sebagai makhluk kelas dua setelah laki-laki.
Di dalam mengerjakan tugas–tugas keseharian di Eden, kedudukan orang-orang yang ditunjuk menjadi pemimpin sama dengan yang dipimpin. Tak ada pembantu di Eden. Tak ada tukang untuk membangun rumah di Eden. Bersama-sama kaum Eden menyiapkan segala sesuatu untuk menjalankan amanah Tuhan mulai dari mendokumentasi seluruh wahyu-wahyu Tuhan hingga mempublikasikannya kepada masyarakat; mulai pekerjaan rumah seperti mengepel lantai, membersihkan kotoran anjing hingga mencuci piring dan pakaian sendiri.
Sungguh terlarang bagi kaum Eden mengkhususkan keutamaan Bunda Lia lebih daripada yang lainnya. Beberapa diantara kaum Eden mendapatkan teguran Malaikat Jibril karena menyediakan makanan Bunda yang lebih utama dari jamaah yang lain. Demikianlah Jibril menegurkan sekaligus mengajarkan bahwa penghormatan terkadang dapat membuat seseorang jatuh pada ketidakadilan. Dan sungguh Jibril mengajar kaum Eden dengan sangat keras mengenai keadilan karena tiadalah kelestarian dan kelanggengan semesta akan tercipta bila prinsip keadilan dilanggar. Sebab, keadilan adalah hukum semesta dan keegaliteran adalah sebuah sendi utama keadilan.
Cara Jibril mengajarkan egaliterianisme di Eden juga ditunjukkan melalui hukuman Tuhan yang tidak hanya terkhusus kepada kaum Eden, tetapi juga menimpa siapa saja termasuk Bunda Lia.
Sebagai contoh, suatu hari Bunda Lia sakit perut yang luar biasa. Perutnya sakit melilit yang membuat kakinya seakan lumpuh tak mampu berdiri dari tempat tidurnya. Di dalam kesakitannya, Bunda bertanya kepada Tuhan tentang hal ikhwal yang menyebabkan dirinya merasakan kesakitan seperti itu. Lalu Tuhan menjawabnya bahwa sesungguhnya Bunda telah berlaku tidak adil. Saat tak ada seorang pun dari kaum Eden yang makan berlauk telur, Bunda menambahkan lauk makan dengan menggoreng telur sendirian. Demikianlah Tuhan membuat Bunda sakit karena Tuhan sedang mendidik Bunda untuk berlaku adil terhadap orang-orang yang dipimpinnya dan sekaligus pelajaran bagi kami bahwa tidak ada seorang pun yang terbebas dari hukuman Tuhan manakala dia berbuat kesalahan. |