|
Keindahan adalah citra Tuhan. Sungguh indah ajaran Tuhan karena sesungguhnya Tuhan itu Maha Indah.
Keindahan akhlak dan perilaku adalah buah dari keindahan ajaran Tuhan. Keindahan kesabaran, keindahan keteguhan hati, keindahan cinta, keindahan pengorbanan; semuanya adalah keindahan-keindahan akhlak manusia yang memberikan inspirasi bagi orang lain yang menyaksikannya.
Di Eden, Malaikat Jibril senantiasa memberikan pendidikan yang membuahkan hasil akhlak yang indah. Pengajarannya pun indah karena menggunakan bahasa keindahan dan berbagai sarana keindahan Tuhan. Lagu-lagu indah menjadi hiburan suci yang membawa kaum Eden dalam keharuan, kegembiraan, ataupun kedamaian surgawi. Demikian juga rangkaian bunga indah yang diajarkan Jibril membangkitkan sense keindahan pada kaum Eden dan menjadikannya sebagai cara mendekatkan diri kepada Tuhan yang melembutkan hati nurani.
Sungguh indah Tuhan Yang Maha Kuasa, sungguh indah semesta-Nya. Sungguh indah ajaran Tuhan. Keindahan adalah pakaian Tuhan, maka Tuhan pun mengajarkan agar kaum Eden menjadikan hidupnya indah, juga tutur kata, budi pekerti, dan bahasanya. Malaikat Jibril mengajarkan agar kaum Eden menjadi indah dalam segala bentuk agar mereka terlihat sebagai citra Ilahi di bumi-Nya. Kaum Eden dibimbing agar memancarkan keindahan itu di mana pun mereka berada, tak membiarkan sesuatu yang tak indah melekat di dalam diri atau perilaku mereka.
Keindahan adalah ajaran pokok kaum Eden, keindahan bunga menjadi simbol keindahan. Oleh karenanya, di majelis Jibril senantiasa harus ada rangkaian bunga yang indah. Majelis Jibril tak akan dimulai bila masih ada yang terlihat tak indah di hadapan mata. Walaupun acara harus tertunda berjam-jam lamanya, Jibril tak memberikan toleransi apapun terhadap pelanggaran standar keindahan yang diinginkannya. Setelah semuanya indah, bersih, dan berseri, maka acaranya pun baru dapat dimulai. Demikianlah Malaikat Jibril sangat kukuh dan ketat mengajari kaum Eden untuk menjunjung tinggi serta terbiasa hidup bersama keindahan.
Malaikat Jibril mengajarkan pula kepada kaum Eden -melalui Bunda Lia- bagaimana merangkai bunga, ranting, dahan, menjadi indah. Selain menjadi representasi keindahan, rangkaian bunga juga menjadi sarana bagi Jibril untuk menjabarkan ajaran-ajaran Tuhan yang sedang dibahaskannya.
Kepada kaum Eden, Malaikat Jibril mengajarkan bahwa keindahan dapat menghantarkan seseorang kepada Tuhan dengan cara yang lebih mudah. Keindahan adalah bahasa hati, sedangkan di dalam hati bersemayam para malaikat, sebagaimana Tuhan pun berbicara lewat hati. Karena itu, mengubah segala sesuatu yang ada di sekeliling yang tak indah menjadi indah dapat membuat orang lain bahagia dan tenteram hatinya. Semoga saja keindahan itu dapat memudahkan dan mengantarkan mereka untuk melihat keagungan Tuhan.
Selain melalui bahasa bunga, Malaikat Jibril mengajarkan keindahan melalui bahasa alam. Dibawanya kaum Eden semua ke alam bebas; menatap awan, langit, bintang, bulan, dan matahari. Dari sana kaum Eden sedikit demi sedikit dibawa untuk dekat dan mencintai alam. Di langit malaikat mencandai kaum Eden dengan konfigurasi dan tulisan-tulisan melalui awan yang melintas di langit. Betapa sering kaum Eden menyaksikan awan yang membentuk tulisan "Allah" ataupun tulisan-tulisan lain yang terbaca dengan jelas di langit. Semua itu adalah cara Tuhan mendidik kaum Eden agar mencintai keindahan dan dekat dengan-Nya melalui alam-Nya.
Bukan hanya itu, Malaikat Jibril mengajarkan kepada kaum Eden lagu-lagu suci yang menjadi hiburan sekaligus sarana pengajarannya. Keindahan lagu-lagu yang diciptakan Jibril adalah keindahan universal yang dapat dinikmati oleh siapa saja yang bersedia membuka hati untuk mendengarkannya. Sungguh Jibril telah mengajarkan kepada kaum Eden sekitar 200 lagu yang indah-indah dan lewat senandung lagu-lagu itu kaum Eden dapat bercengkerama dengan Tuhan dan para malaikat-Nya.
Di dalam pengajaran yang dibawanya setiap saat, Malaikat Jibril mengajarkan kepada kaum Eden tentang indahnya kalimat-kalimat Tuhan di dalam pengajaran dan wahyu-wahyu-Nya. Dan ajaran itu akan semakin indah manakala telah menjadi sikap dan perilaku yang tampak dan terasa oleh umat manusia.
Sesungguhnya Tuhan saat ini mengutus Malaikat Jibril untuk menyatakan surga-Nya di bumi. Sementara surga adalah kemahaindahan, maka kaum Eden yang menyertainya pun dituntut untuk dapat memperlihatkan keindahan ajaran Tuhan itu kepada manusia.
Dengarkanlah lagu-lagu Eden, indah bukan? Lihatlah foto-foto Eden, indah bukan?
Demikianlah sesungguhnya Tuhan sangat mencintai keindahan. Melalui lagu-lagu yang indah, manusia dihantarkan pada keagungan cinta dan keindahan Tuhan yang Maha Tak Terhingga. Bersenandung adalah berzikir bagi kaum Eden, berbahagia dalam suka dan cita adalah lambang surgawi bagi kaum Eden. Demikianlah kaum Eden diperintahkan menyebarkan ajaran Tuhan ini dengan keindahan akhlak, keindahan pesan, keindahan lagu serta keindahan bunga.
Kaum Eden tak diperkenankan menyebarkan ajaran Tuhan ini dengan kebencian, kemarahan, ataupun kekerasan. Hanya dengan cinta dan keindahan lah ajaran Tuhan akan mengejawantah di bumi ini. Demikianlah, kaum Eden diperintahkan untuk merepresentasikan ayat-ayat Tuhan di dalam kitab-kitab suci-Nya melalui keindahan. Semua itu dilakukan agar menjadi pelajaran bahwa sesungguhnya Tuhan ingin mengingatkan kaum beragama yang lebih menyukai luapan amarah, ungkapan kebencian, kekerasan, dan peperangan yang menodai keindahan ajaran-Nya.
Malaikat Jibril memerintahkan kepada kaum Eden untuk membagi-bagikan peringatan Tuhan sebanyak tujuh ribu yang disertai sekuntum mawar putih sebagai lambang keindahan dan kesucian. Kaum Eden pun diperintahkan untuk menuliskan wahyu-wahyu Tuhan di atas batu dan ukiran yang indah. Bahkan Tuhan pun memperkenankan kaum Eden untuk menarikan tarian yang indah untuk Tuhan, tarian yang suci dan indah yang terlindung dari segala erotisme.
Maha Suci dan Maha Indah selalu pengajaran Tuhan. |