0

 

welcome home angels




Selamat Datang - YM Muhammad Abdul Rachman        Kidung Eden

 


Milis Salamullah-Info

Kesucian PDF Print E-mail
Pokok Ajaran di Eden
Sunday, 19 November 2006

Tuhan itu Maha Suci dan tiadalah seorang hamba dapat mendekat kepada-Nya bila dia tak mensucikan dirinya. Kesucian adalah keniscayaan bila seseorang hendak mendekatkan diri kepada Tuhan. Tiadalah kelapangan di jalan Tuhan akan didapatkan bagi mereka yang tidak mensucikan dirinya secara bersungguh-sungguh. Dan tiadalah pula seseorang dapat menjadi kukuh dan istiqomah bila dia tak suci. 

Kesucian itu akan terjaga bila seseorang selalu waspada dan rajin mengintrospeksi diri. Karena itulah diwajibkan bagi semua kaum Eden untuk selalu suci bila ingin tetap berada di sekitar takdir kerasulan Malaikat Jibril di akhir zaman. Sebuah kesalahan -walaupun sedikit saja- bila terjadi di sekitar kerasulan, maka kesalahan itu akan menjadi kesalahan yang sangat besar dan fatal akibatnya pada masa-masa selanjutnya.

Banyak cara yang digunakan oleh Malaikat Jibril untuk mengajarkan kesucian di Eden. Dan cara-cara yang digunakannya cenderung tak konvensional sebagaimana pengajaran yang biasa diberikan para guru agama. Malaikat Jibril senantiasa memuji kebaikan bila kaum Eden lulus di dalam ujian-ujian yang dihadirkan di hadapan majelisnya. Sebaliknya, dia pun memarahi dan menghukum kaum Eden bila kedapatan melakukan kesalahan dan dosa. 

Bila dia memuji, sungguh indah pujiannya. Siapapun yang mendengarnya akan berdecak kagum karena sungguh indah kata-kata yang dirangkainya. Tiadalah pujian itu dihadirkan bila bukan sebagai contoh keteladanan yang menjadi pelajaran bagi kami murid-muridnya yang lain. Dan bila dia memarahi kaum Eden, maka sungguh kemarahannya itu menghunjam. Perkataannya tajam bagai sembilu hingga kaum Eden menjadi jengah dan trauma dengan kesalahan yang telah diperbuat. 

Sungguh Malaikat Jibril mengajarkan kepada kaum Eden untuk tak menyentuh dosa sekecil apapun, baik dalam keadaan lapang maupun terpaksa. Diajarkannya kepada kaum Eden untuk melakukan pertaubatan dari segala dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil. Malaikat Jibril mengajarkan kaum Eden untuk bersumpah kepada Tuhan; tak menyentuh dosa sekecil apapun dan bersedia menerima hukuman langsung dari Tuhan bila melanggar janji dan sumpah kami itu. Sumpah itu adalah tanda kesungguhan tekad untuk mensucikan diri dan mengharapkan penjagaan dari Tuhan. Tiadalah keberanian bersumpah itu muncul kecuali telah bulat tekad kaum Eden untuk memutus masa lalu dan memulai hidup baru di dalam kesucian bersama Tuhan.

Selain mengajarkan jalan sumpah, Malaikat Jibril juga menggelar Majelis Pertaubatan yang diselenggarakannya dalam waktu-waktu tertentu. Di dalam Majelis Pertaubatan, kaum Eden harus mengadukan dosa-dosa yang pernah dilakukannya kepada Tuhan untuk memohon pengampunan dari-Nya. Pengaduan dosa-dosa itu dilakukan dengan cara mengakui dan menyebutkan dosa-dosa secara terinci di hadapan majelis, di mana semua kaum Eden dan Malaikat Jibril menjadi saksi. Bukan hanya dosa lahir yang harus diakui, kaum Eden yang sedang mengakui dosa harus mengakui dosa-dosa hati dan pikiran jika memang benar-benar menginginkan pengampunan dosa dari Tuhan.

Di majelis yang sangat sakral dan berat itu, Malaikat Jibril-Ruhul Kudus lah yang menjadi hakim bagi pertaubatan dan pengakuan dosa kaum Eden. Sedangkan semua hadirin yang menjadi saksi di majelis itu telah bersumpah kepada Tuhan tak memperbincangkan dosa yang didengarnya di dalam Majelis Pertaubatan itu.

Majelis Pertaubatan dan pengakuan dosa itu sungguh merupakan jalan pensucian yang sangat berat bagi kaum Eden. Bila tak karena keikhlasan dan kebulatan tekad untuk mensucikan diri, takkan sanggup seseorang menempuh pensucian di majelis itu. Bagaimana tidak, dosa-dosa personal yang selama ini menjadi rahasia pribadi dan tak ingin diketahui oleh siapapun harus dibuka dan didengar orang lain. Majelis itu benar-benar meluluh lantakkan keegoan dan harga diri seseorang sehingga tanggal dan tampil apa adanya di hadapan Tuhan. Walaupun berat untuk dijalani, kaum Eden biasanya sangat bersyukur setelah melewati Majelis Pertaubatan karena banyak mendapatkan pencerahan spiritual di dalamnya.

Tak hanya sekali, dalam waktu-waktu tertentu Malaikat Jibril menggelar ulang Majelis Pertaubatan. Pada saat itu, kaum Eden harus kembali mengakui dosa-dosa yang dilakukan. Dengan metode pendidikan kesucian semacam itu, kaum Eden “dipaksa” Malaikat Jibril untuk selalu waspada menjaga kesucian diri. Kalau tidak, mereka harus mengakuinya kepada Tuhan di dalam majelis Pertaubatan yang selanjutnya. Dengan cara itu kaum Eden semakin tersadar bahwa yang mempermalukan diri mereka sebenarnya bukan Tuhan, tetapi adalah dosa-dosa dan kesalahan yang mereka lakukan sendiri. Tak sekali kaum Eden melakukan pertaubatan dan tak seorang pun yang dikecualikan dalam pensucian ini, tidak Bunda Lia, tidak Imam Mahdi, atau kaum Eden lainnya. Semua mengalami proses pensucian yang sama karena seluruh kaum Eden tiada beda, karena semua adalah hamba-hamba-Nya. 

Setelah dianggap cukup tabungan amal kebajikan kaum Eden dan setelah dosa kaum Eden dihisabkan Tuhan, maka kaum Eden pun diminta menyempurnakan pensucian dengan melakukan pensucian dengan api. Seluruh bagian tubuh, sedikit demi sedikit, disucikan dengan api dan kaum Eden diminta melewati kobaran api. Tiadalah semua itu merupakan peragaan kesaktian karena kaum Eden pun mengalami kesakitan sesuai dengan dosa-dosa yang belum tertebuskan. Api menjadi alat Tuhan yang bekerja sesuai dengan perintah-Nya, menjadi api neraka yang menyakiti bagian tubuh berdosa dan dingin pada bagian tubuh yang suci. Itulah yang dinyatakan oleh Malaikat Jibril sebagai syariat pensucian akhirat di surga-Nya.

Malaikat Jibril memang mensucikan kaum Eden dengan sangat keras agar kaum Eden terpelihara dari segala dosa dan tak mengulangi perbuatan dosa kembali. Sungguh kaum Eden merasakan betapa menyakitkannya dosa itu. Malaikat Jibril mengajarkan bahwa pembawa amanah Tuhan haruslah tak ternoda kesuciannya karena ketidaksucian ataupun dosa memberikan peluang bagi iblis untuk menggagalkan amanah Tuhan. Bahkan, setelah melalui pensucian bertahun-tahun dan setelah Surga Eden diresmikan Tuhan, Malaikat Jibril meminta kaum Eden untuk bersumpah khusus. Malaikat Jibril menyatakan telah bosan dengan pengakuan dosa yang berulang di kalangan kaum Eden. Jika kaum Eden masih ingin bersamanya membawa amanat Tuhan di Eden, Malaikat Jibril meminta kaum Eden bersumpah: bersedia dicabut nyawa oleh Tuhan bila melakukan dosa/kesalahan. Sungguh sumpah itu pun bermakna komitmen kaum Eden untuk tak mentolerir dosa/kesalahan apapun dan menggantungkan nyawa hanya pada kasih sayang-Nya.

Kepada kaum Eden, Malaikat Jibril menuntutkan untuk hidup suci, tapi terlarang memberhalakan ataupun mengegokan kesucian, menganggap diri mereka lebih suci daripada orang lain. Sesungguhnya, merasa lebih suci dibandingkan orang lain bukanlah sebuah kesucian yang dibimbingkan Tuhan. 

Malaikat Jibril pun mengajarkan kepada kaum Eden untuk tak bersikap ekstrem, mengharamkan yang halal di dalam proses penitian kesucian. Jibril tak memperkenankan kaum Eden hidup berselibat (tak menikah untuk menjaga kesucian). Kaum Eden pun tak diajarkan bertapa mengasingkan diri dari masyarakat untuk menjaga kesucian. Jibril mengajarkan kepada kaum Eden untuk tetap bersosialisasi dengan wajar bersama masyarakat, sembari tetap mempertahankan kesucian dan tak larut dalam norma-norma yang memperbolehkan kemaksiatan dan kecurangan.

“Kesucian adalah keniscayaan bila ingin bersama Tuhan namun jangan memberhalakan kesucian. Tetaplah dalam keseimbangan karena bila jatuh pada keegoan kesucian, sangat besar dosanya,”

itulah nasihat Jibril kepada kaum Eden semua.

 
< Prev   Next >
Eden Terbaru

         Terbaru!!   

    Puisi
    Diari
    Refleksi
    Artikel
    Cerita
    Persepsi
    Hikmah
    Quote
    Berita Eden