Suatu ketika, Ruhul Kudus pernah menyampaikan kepada kami dalam sapaannya bahwa Takdir Tuhan yang dibawanya di akhir zaman ini, yaitu membawa turun Kerajaan Tuhan, Surga Eden dan Mahkamah Pengadilan-Nya, tidak membutuhkan jumlah pengikut yang banyak. Ruhul Kudus dengan tegas menyatakan bahwa walaupun hanya tertinggal Bunda Lia Eden sekalipun, Takdir Tuhan ini akan tetap mendunia sebagaimana Kehendak-Nya. Karena yang terpenting bagi Tuhan dan Ruhul Kudus adalah kesucian mutlak yang dapat diraih oleh kaum Eden sebagai syarat utama untuk menurunkan Wahyu-wahyu-Nya kembali di akhir zaman ini.
Di dalam masa perkabungan, yang berlanjut dengan masa berkumpul dan
menginap bersama selama 2 bulan terakhir ini untuk mengerjakan
Risalah-risalah Ruhul Kudus terbaru, Ruhul Kudus menyampaikan
Pengajaran-pengajaran Tuhan yang mendalam tentang pentingnya mencapai
kesucian mutlak sebagaimana yang telah disumpahkan oleh kaum Eden
dimana beberapa persyaratannya adalah dengan melepaskan diri dari
pekerjaan dan memutuskan ikatan dengan keluarga, yang memiliki arti
bahwa kaum Eden harus lebih mengutamakan segala urusan di Eden daripada
urusan keluarga dan rumah tangganya masing-masing.
Dalam masa berkumpul dan menginap bersama ini, pada awalnya satu-dua
kaum Eden yang memiliki keluarga di luar memohon izin kepada Paduka
Bunda untuk mengurusi urusan rumah tangganya. Paduka Bunda pun memberi
izinnya dengan himbauan agar segera kembali setelah urusannya selesai.
Ternyata hal tersebut diikuti oleh kaum Eden lainnya yang juga merasa
memiliki urusan rumah tangganya yang harus diselesaikan. Disadari atau
tidak disadari, makin banyak kaum Eden yang tidak menepati Perintah
Tuhan untuk menginap di Mahoni sampai proses pengerjaan Risalah-risalah
Ruhul Kudus terbaru selesai. Beberapa di antara mereka hanya menginap
beberapa malam saja setiap minggunya. Hingga sampai pada hari Senin
pagi (25/8) dimana pada dua malam sebelumnya hampir seluruh kaum Eden
telah meninggalkan Mahoni untuk menyelesaikan urusan rumah tangganya
masing-masing atau hanya sekedar pulang menengok tempat tinggalnya yang
telah lama ditinggalkan. Hanya tertinggal kaum Eden yang memang tinggal
di Mahoni, ditambah Titing dan keluarga Feri yang baru saja mulai
menetap di Mahoni.
Melihat sepinya rumah Mahoni dikarenakan banyaknya kaum Eden yang
pulang ke rumahnya masing-masing, membuat Paduka Bunda merasa khawatir
melihat kelonggaran kepatuhan yang terjadi di antara kaum Eden.
Betapapun, Paduka Bunda akan bertoleransi dengan mempersilakan bagi
mereka-mereka yang meminta izin kepadanya untuk pulang, karena secara
manusiawi, Paduka Bunda juga memahami akan adanya kepentingan keluarga
yang masih dimiliki oleh kaum Eden.
Namun ternyata tidak bagi Tuhan. Sebagaimana di dalam sebuah sapaan
dinyatakan bahwa memang Tuhan itu Maha Pengampun dan mudah mendapatkan
Pengampunan-Nya, namun bila hal itu tidak berkenaan dengan
sumpah-sumpah yang sakral di Surga-Nya. Maka pencemaran sumpah yang
telah dilakukan oleh kaum Eden dengan mementingkan urusannya yang lain
daripada urusan di Eden menjadi sebuah alasan bagi Tuhan untuk
menjatuhkan sebuah ketetapan, bahwa siapa-siapa yang telah meninggalkan
Eden dan tidak menepati Persyaratan Tuhan untuk menginap di Mahoni
selama proses pengerjaan risalah, tidak usah kembali ke Eden karena
Kerajaan Tuhan akan dilanjutkan oleh mereka-mereka yang tertinggal di
Eden. Tercatat kini hanya tertinggal 41 orang, termasuk anak-anak, yang
diperkenankan Tuhan berada di Eden menjalankan Amanat-amanat-Nya.
Menerima Ketetapan Tuhan ini, sungguh Paduka Bunda dan kaum Eden yang
tertinggal bersedih hati karenanya. Namun di lain sisi, mereka juga
dapat memahami bahwa Tuhan sudah memberikan cukup banyak toleransi atas
segala kelonggaran dan pelanggaran sumpah yang dilakukan oleh kaum Eden
atas sumpah setia mutlak, cinta mutlak, taat mutlak, dan suci mutlak
karena Tuhan. Berurai air mata Paduka Bunda saat harus melepas Ietje
dan Ridwan yang telah memberikan pengabdiannya begitu besar selama ini
dikarenakan Ketetapan Tuhan ini, yang mana pada pagi ini (25/8) sempat
datang menghadap Paduka Bunda. Namun Tuhan memperkenankan pula beberapa
kaum Eden seperti Ria dan keluarganya dan Srihari, yang mana saat
mereka menerima kabar Ketetapan Tuhan tersebut melalui SMS, mereka
sedang dalam perjalanan menuju Eden. Demikian pula kepada Ipuk (istri
Umar) dan Ilmi (istri Agus Susilo) yang sempat tertinggal di rumah
mereka, namun mereka diperkenankan kembali ke Eden ketika suami-suami
mereka, Agus Susilo dan Umar telah sampai di Eden pagi-pagi sekali.
Tentunya dengan pertimbangan atas begitu banyak dan besarnya jasa dan
pengorbanan yang telah mereka berikan kepada Tuhan melalui Eden.
Sungguh Paduka Bunda sangat menyayangkan atas begitu banyaknya kaum
Eden yang harus dilepaskan karena kelalaian mereka menepati
sumpah-sumpahnya sendiri. Bilamana mereka mau bersabar dan lebih pasrah
dan kukuh mempertahankan sumpahnya, sesungguhnya Tuhan itu Maha Bijak
dan Maha Tahu apa yang terbaik bagi kaum Eden yang telah memberikan
pengorbanan yang sangat besar di dalam pengabdiannya kepada Tuhan.
Karena sebagaimana yang dicontohkan oleh Sary dan Titing, dimana mereka
tetap bertaat tidak pulang ke rumahnya masing-masing, namun pada saat
mereka kembali pulang, hal itu terjadi karena Tuhan yang
memperkenankannya melalui perintah Paduka Bunda.
Melihat kegamangan hati Paduka Bunda, Ruhul Kudus menuliskan sebuah surat untuk Paduka Bunda:
Surat Paduka Ayah untuk Paduka Bunda
Tak ada yang terbaik kecuali berpatuh mutlak kepada Tuhan di Kerajaan Eden. Dan tak ada yang lebih baik melainkan tertidur nyenyak bersama sumpah yang telah dinyatakan. Karena sumpah-sumpah yang tak tercemari oleh berhala apa pun adalah yang terbaik di Sisi Tuhan.
Aku menangisi murid-muridku dari ketercemaran berhala-berhalanya. Dan aku sangat sedih melihatmu menangis terisak tanpa ada pelipur lara. Aku pun menangisi mereka, tanpa ampun aku pun tak bisa berbuat apa-apa. Di Sisi-Nya, aku ini bukan guru kebenaran, melainkan sekedar abdi-Nya. Dan kita semua hanya bisa bijak menerima setiap Ketentuan-Nya.
Dan aku melihat ada berhala yang suci dan ada berhala uang, yang lainnya adalah berhala keluarga. Semuanya itu sama, karena mengurangi kemutlakan. Jadi kita itu sama, sama-sama ingin menyelamatkan keluarga kita. Kau dengan anak cucumu, tapi kita sama-sama bisa memberhalakan anak-anak kita tercinta Komunitas Eden, walau mereka sendirilah yang sudah mencemari sumpah-sumpahnya. Karena sesungguhnya, bila kita tak suci dari berhala cinta, kita tak pernah bisa bersikap tegas. Dan anak-anak kita pun terlalu manja, menganggap boleh-boleh saja pulang sesekali. Tapi ketika sudah berkali-kali tanpa bisa dicegah, kita berdua pun tanpa ampun harus berani melepas mereka.
Konsekuensi sebagai pembawa takdir Eden yang maha suci tak memungkinkan kita berdua ongkang-ongkang kaki sambil menanti mereka semua suci total. Tapi walau satu dua ataupun tiga orang yang tertinggal sekalipun, takkan menjadi pertanyaan lagi. Mengapa sesedikit ini orang Eden? Surga memang maha suci, tanpa berhala apa pun.
Kasihan mereka. Semoga mereka tetap suci dan setia menjaga sumpahnya. Supaya suatu hari, aku mungkin bisa menempatkan mereka untuk suatu posisi yang tak jauh dari Eden. Katakan saja kepada mereka, Tuhan Maha Pengasih terhadap murid-muridku yang tercinta. Katakan kepada mereka, aku selalu peduli pada perhatian mereka.
Jangan kaukira mereka menyadari kesalahannya sampai peristiwa ini terjadi. Mereka benar-benar lalai oleh karena berhala-berhala mereka masing-masing.
Percayalah, kita ini hanya mematutkan diri sebagai hamba Allah yang patuh mutlak atas Kehendak-Nya.
Jakarta, 25 Agustus 2008
Pukul: 16.50 WIB
Jibril Ruhul Kudus
Kini, kaum Eden yang tertinggal benar-benar mereka-mereka yang telah
berhenti bekerja. Hanya Kelik yang diberikan kesempatan terakhir oleh
Paduka Bunda untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Dan bila hal itu
tidak dapat dipenuhinya, maka dengan berat hati Kelik pun harus
meninggalkan Eden.
Maka, hari yang telah dinubuahkan di dalam sapaan-sapaan dan
Risalah-risalah Ruhul Kudus terbaru telah tiba, yaitu saat dimana sudah
tidak ada satu pun kaum Eden yang tertinggal kini yang bekerja. Maha
Suci Tuhan Yang Maha Menepati Janji-Nya, tentunya setelah kaum Eden
terlebih dahulu menepati sumpah-sumpah dan janjinya kepada-Nya. Kini
semua terpulang kembali kepada Tuhan bagaimana Tuhan akan menafkahi
kaum Eden. Karena betapapun, Tuhan telah membuktikan bahwa Ia dapat
menghadirkan uang secara gaib beberapa kali kepada kaum Eden secara tak
terduga-duga untuk memudahkan segala urusan di Eden, dimana hal
tersebut juga menjadi bagian dari Janji-Nya kepada kaum Eden.
Semoga Tuhan melindungi kami semua, baik kaum Eden yang tertinggal
maupun mereka-mereka yang kini harus berada di luar Kerasulan Eden.
Amin.
|