|
|
|
|
|
|
|
|
|
Sedang dalam Masa Perkabungan |
|
|
|
|
Diari Andit
|
|
Wednesday, 25 June 2008 |
|
Hari ini (22/6), Ruhul Kudus memerintahkan Komunitas Eden untuk berkumpul dan menginap di Mahoni selama sebulan. Tidak hanya berkumpul dan menginap, Ruhul Kudus memerintahkan kami untuk mengenakan kain hitam sebagai tanda perkabungan untuk bangsa. Ada apakah gerangan?
Itulah pertanyaan yang ada di benak kami, khususnya aku pribadi, setiap
Ruhul Kudus memerintahkan Kaum Eden untuk mengenakan kain hitam tanda
perkabungan. Namun apa yang dimaksud oleh Ruhul Kudus tidak pernah kami
ketahui, sampai peristiwa yang dimaksudkan itu terjadi. Kami hanya
menjalaninya sebagaimana yang diperintahkan.
Dalam kurun waktu 7 tahun aku mengikuti kegiatan di Eden, setidaknya
Ruhul Kudus pernah memerintahkan kami dua kali masa perkabungan. Dan
dalam perkabungan yang terakhir, perintah itu datang dalam sebuah
persidangan Paduka Bunda di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, tepatnya
pada persidangan ketiga dengan agenda mendengarkan tanggapan Jaksa
Penuntut Umum atas eksepsi Tim Penasihat Hukum Lia Eden, dimana JPU
menolaknya.
Ternyata perintah itu adalah sebuah pertanda akan terjadinya sebuah
tragedi yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. Karena pada tanggal 29
Mei 2006, muncullah semburan lumpur di Porong-Sidoarjo, yang saat itu
masih merupakan semburan kecil dan tidak terlalu besar dampaknya, namun
kini telah menjadi sebuah bencana alam yang semakin membesar tak
terkendali dan menimbulkan kerugian yang sangat besar luar biasa.
(Pembahasan selengkapnya terdapat di situs Eden www.le2-34-777.info
dalam Risalah Surat Ruhul Kudus tentang Keadaan Bangsa Indonesia ke
Depan)
Kini masa perkabungan dan pensucian yang diterapkan Ruhul Kudus kepada
kami lebih berat dan intensif daripada sebelumnya, karena kami semua
diwajibkan menginap bersama-sama di Eden sambil mengenakan kain hitam
sepanjang hari selama sebulan. Apa yang menjadi Kehendak Tuhan kali ini
yang niscaya akan memedihkan hati kami, sungguh tidak akan kami ketahui
sampai peristiwa itu sampai. Yang dapat kulakukan hanyalah menjalankan
apa-apa yang sedang dijadwalkan Tuhan. Dan semoga aku mampu melewati
masa-masa pensucian menuju suci mutlak ini sebagaimana yang
dikehendaki-Nya. Amin.
|
|
|
|