|
Sebuah Kisah di Balik Meninggalnya Soeharto : Hutang Komunitas Eden yang Sudah Terlunasi |
|
|
|
|
Diari Andit
|
|
Saturday, 02 February 2008 |
Suatu ketika di tahun 1998, Sobary datang ke tempat kegiatan Salamullah di Jalan Mahoni No. 30 untuk menyampaikan keinginannya berpuasa secara terus-menerus sampai jatuhnya Soeharto yang saat itu masih menjadi presiden di Indonesia. Padahal saat itu, tidak ada tanda-tanda bahwa Soeharto akan lengser. Maka puasa yang diniatkan oleh Sobary itu bisa menjadi puasa yang tak ada habisnya.
Mendengar keinginan Sobary, Syekh, panggilan kaum Salamullah terhadap
Malaikat Jibril saat itu, menyatakan bahwa Sobary harus mencari
setidaknya enam orang lagi untuk menemaninya berpuasa. Kalau tidak,
upayanya itu dinilai kurang cukup kuat untuk menggoyahkan kepemimpinan
Soeharto yang saat itu masih berkuasa. Maka Bunda Lia pun menawarkannya
kepada kaum Salamullah apakah ada yang mau menemani Sobary berpuasa.
Dan semua kaum Salamullah yang hadir menyatakan kesanggupannya menemani
Sobary berpuasa sampai jatuhnya Soeharto.
Maka berpuasalah kaum Salamullah selama lebih dari 40 hari sampai
terjadinya berbagai aksi demonstrasi dan akhirnya Soeharto menyatakan
turun dari jabatannya. Walaupun di belakangnya diketahui bahwa Sobary
tidak turut berpuasa sebagaimana yang diniatkannya, namun apa-apa yang
diupayakan oleh kaum Salamullah untuk mendukung keinginan Sobary telah
dijawab Tuhan dengan menurunkan Soeharto dari jabatannya sebagai
Presiden Republik Indonesia.
Itulah yang disebut Ruhul Kudus sebagai hutang Komunitas Eden terhadap
Soeharto, yaitu sebuah doa buruk untuk kejatuhannya pada masa yang
lalu. Walaupun kaum Salamullah dahulu melakukannya juga atas arahan
Ruhul Kudus, tetap saja itu adalah sebuah doa buruk yang sesungguhnya
tidak boleh dipanjatkan oleh sebuah komunitas yang sedang mensucikan
dirinya.
Berpuasa dengan tujuan demi kejatuhan seorang pemimpin bangsa
sebetulnya baik dilakukan bila memang pemimpin negara itu melakukan
tindakan yang keji dan semena-mena sehingga membuat rakyat menderita,
dan tak ada kekuatan apa pun yang dapat menghentikan
kesewenang-wenangannya. Namun dalam konteks Soeharto, sesungguhnya ia
adalah seorang pemimpin yang telah membangun bangsa dan berjasa besar
terhadap rakyat Indonesia. Maka dapat dikatakan bahwa Komunitas Eden
memiliki hutang terhadap Soeharto karena telah berpuasa untuk
menjatuhkannya dari jabatannya. Walaupun perilaku korupsi yang
dilakukan anak-anak Soeharto itulah yang sesungguhnya membuat apa-apa
yang diupayakan oleh kaum Salamullah itu tidak terlalu salah. Namun
tetap hutang adalah hutang yang harus ditebus atau dilunasi.
Diberitakan di media massa mengenai Soeharto yang jatuh sakit dan harus
dirawat secara intensif di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Berhari-hari
Soeharto dirawat dan tidak menunjukkan perbaikan pada kesehatannya.
Hidupnya ditopang oleh alat-alat penunjang kehidupan yang dipasangkan
di seluruh tubuhnya. Terlihat Soeharto sangat menderita walaupun
seluruh anggota keluarga dan segenap rakyat Indonesia telah memanjatkan
doa untuk kesembuhannya.
Ruhul Kudus menjelaskan bahwa Soeharto mengalami hal demikian karena
adanya perjanjian mistik yang buruk yang pernah dilakukannya. Oleh
karena itu, Ruhul Kudus meminta kepada kaum Eden untuk memanjatkan doa
kepada Tuhan agar berkenan mencabut perjanjian mistis yang masih dibawa
oleh ruh Soeharto sehingga membuatnya menderita seperti saat itu. Dan
Tuhan ternyata berkenan menjawab doa Komunitas Eden dan ruh Soeharto
pun dapat meninggalkan jasadnya pada tanggal 27 Januari 2008 yang lalu.
Apa yang dilakukan kaum Salamullah dahulu adalah atas petunjuk Ruhul
Kudus, demikian pula doa yang dipanjatkan kaum Eden saat ini pun juga
atas tuntunan Ruhul Kudus. Demikianlah salah satu cara Ruhul Kudus
untuk menghadirkan sebuah wawasan keakhiratan kepada Komunitas Eden,
bagaimana sebuah hutang itu harus dilunasi dan bagaimana sebuah
perjanjian mistis yang buruk dapat berpengaruh buruk pula terhadap ruh
seseorang.
|