|
Dalam Majelis Kerasulan pada hari Sabtu ini (5/1), Ruhul Kudus menghadirkan sebuah pengajaran yang luar biasa kepada kami. Dikisahkan tentang salah seorang Komunitas Eden yang tingkat kesuciannya tak diragukan lagi. Kebaikan, ketulusan dan kesuciannya tercermin dalam perilakunya sehari-hari. Bahkan Ruhul Kudus di dalam salah satu risalahnya telah menetapkannya sebagai wanita tersuci di dunia.
Namun di dalam kesuciannya, ternyata ia mengidap sebuah penyakit yang
bersarang di otaknya. Ternyata penyakit itu berasal dari adanya sebuah
pemikiran yang dimilikinya untuk segera meninggal, jasadnya dibakar dan
abunya dibuang ke laut, agar kesucian yang pernah dinyatakan Ruhul
Kudus atasnya, tak ternoda. Dan dalam menunggu tibanya saat itu, ia
tidak mengisi waktunya dengan hal-hal yang berguna dan bermanfaat bagi
Amanat Tuhan di Eden. Sikap itulah yang membuat Ruhul Kudus menyatakan
bahwa pengkultusan atas kesuciannya yang tak pernah diniatkannya itu
ternyata telah menodai kesuciannya sendiri. Dan itulah yang dibalaskan
Tuhan menjadi sebuah penyakit yang diderita olehnya.
Maka bagaimanakah seharusnya ia bersikap? Ruhul Kudus mengajarkan bahwa
yang terbaik adalah ia harus tetap bersemangat menyambut dan bekerja
mengurusi Wahyu-wahyu Tuhan yang saat ini sedang turun. Maka
kesuciannya yang sempat tak sempurna dapat beralih menjadi sebuah
kesucian yang sejati dan hakiki dengan tetap bersemangat menjalankan
Amanat-amanat Tuhan yang turun di Eden.
Dalam Majelis Kerasulan itu pun, Ruhul Kudus menampilkan figur
Komunitas Eden yang lainnya, yaitu salah seorang Komunitas Eden yang
sangat rajin dan bekerja keras dari pagi sampai malam dimana ia
mengabdikan dirinya untuk menjaga kebersihan Eden dengan membersihkan
rumah Mahoni sehari-hari. Kekurangan dalam lisannya membuat Ruhul Kudus
menetapkan hukuman berpuasa bicara tanpa batas waktu, namun ia
menerimanya dengan lapang hati dan menjalankan hukuman itu dengan
ikhlas.
Walaupun ia berasal dari seorang manusia yang pernah melakukan cukup
banyak dosa, namun kesungguhannya menebus kesalahannya itu dengan
bekerja dengan penuh semangat membersihkan Eden dan menjalani hukuman
puasa bicaranya dengan ikhlas, membuat Ruhul Kudus menyebutkan bahwa
tidak menutup kemungkinan ia akan mencapai kesucian hakiki sebagaimana
yang tengah diperjuangkan oleh kaum Eden yang dikisahkan sebelumnya.
Maka pada hari itu, melalui pembahasan Ruhul Kudus atas kedua figur
kaum Eden yang ditampilkannya, kami mendapatkan sebuah pelajaran yang
sangat berharga bahwa kesucian hakiki hanya dapat dicapai dengan
kesungguh-sungguhan dan semangat pengabdian yang tulus dalam
menjalankan segala Amanat Tuhan yang sedang turun saat ini di Eden.
|