0

 

welcome home angels




Selamat Datang - YM Muhammad Abdul Rachman        Kidung Eden

 


Milis Salamullah-Info

Sebuah Pilihan Kebenaran dan Konsekuensinya PDF Print E-mail
Refleksi Rachman
Friday, 17 August 2007
Refleksi
Sebuah Pilihan Kebenaran dan Konsekuensinya

Dua minggu terakhir ini menjadi minggu-minggu yang menyedihkan bagiku.Aku harus merelakan Mas Aar (Sumardiono), Feri dan Arif terlepas dariEden. Sungguh mereka adalah sahabat dan saudara yang sangat kucintaibahkan lebih dari keluarga yang sedarah sekalipun. Sebagaimana ketikasaat Paduka Bunda menyampaikan keputusan itu kepada Mas Aar, tak adakata-kata dari mulutku yang dapat kuutarakan kepadanya karena akumemang sudah tak bisa mengucapkan apa-apa lagi. Aku lebih memilih untukberdiam termangu melihat seluruh proses itu terjadi di hadapanku.
 
Aku sangat terkejut ketika mendengar Paduka Bunda menyatakan bahwa kesalahan Mas Aar itu jauh lebih berbahaya daripada kesalahan Arif yang dinyatakan masih memiliki sifat sombong di dalam dirinya. Karena dinyatakan bahwa kesombongan Arif itu hanya dinyatakannya kepada teman kerjanya dan tidak ada kegamangan pada dirinya atas takdir ini. Sedangkan kesalahan Feri dinyatakan hanyalah hawa nafsunya yang tidak dapat dikendalikannya, terutama dalam hasratnya yang selalu ingin memotret. Sedangkan Mas Aar dianggap memiliki kesalahan yang lebih berat karena telah menghadapkan kebenarannya dengan kebenaran yang sedang diturunkan Tuhan.

Terlepasnya Arif dan Feri dari Eden saja membuatku pening, apalagi mendengar pernyataan Paduka Bunda tentang Mas Aar. Sungguh Mas Aar adalah saudaraku, sahabatku yang sangat kucintai. Kepadanya aku sering berdiskusi atau ngobrol saat aku sedang surut maupun saat aku sedang pasang imannya. Tak jarang dia memberikan suatu kekuatan sekaligus pertimbangan saat diriku sedang letih atau lelah meniti takdir ini. Kami berjalan bergandengan tangan dan saling berpeluk untuk saling menguatkan di antara kami agar tak ada yang terlepas di antara kami. Demikianlah perjalanan panjang yang telah kulalui bersama Mas Aar.

Sungguh tak pernah terlintas di benak kami bahwa salah satu di antara kami harus terlepas. Yang terpikir adalah hanya kematian yang akan melepaskan kami di jalan ini dan berharap akan adanya pertemuan kembali di masa yang akan datang bila Tuhan takdirkan untuk bersama lagi dalam mengemban Amanat-Nya. Demikianlah harapan dan doa yang selalu kami panjatkan bersama. Namun di antara tapal batas itu, ternyata Mas Aar harus terlepas. Namun harapanku, Mas Aar dapat bersama kami kembali. Begitu pula dengan teman-teman yang kini sudah tidak bersama-sama kami di Eden lagi.

Kami hanya dapat berdoa dan berharap serta menggantungkan segala urusan kami kepada Tuhan semata. Karena sungguh Surga dan Kerajaan-Nya memang bukanlah milik kami. Tiadalah hak bagi kami untuk menjadikan apa-apa yang kami yakini dan apa-apa yang kami harapkan dan kami doakan itu terlaksana dan terselenggara sesuai dengan apa yang kami harapkan karena Tuhanlah yang memiliki Surga. Dia-lah yang menetapkan dan memilah di antara kami. Dia pula yang memisahkan dan yang menyatukan kami. Dan Dia pula yang memantaskan kami berada di dalam Takdir-Nya ini. Karena bila dari ukuran kepantasan, tak adalah di antara kami yang pantas berada bersama Surga dan Kerajaan-Nya ini.

Kesetiaan, cinta dan pengorbanan, tak ada yang kami ragukan dari saudara kami Mas Aar yang kini terlepas dari kami. Demikian kesaksiannya atas takdir ini pun telah tertulis dalam buku Loving You yang niscaya telah menjadi inspirasi bagi siapapun yang membacanya, setidaknya diriku sendiri. Demikian salah satu karyanya yang nyata di antara karya-karyanya yang lain sebagai wujud pengabdian dan totalitasnya kepada Tuhan. Karena itulah, saat Mas Aar dikeluarkan dari Eden, aku tak dapat berkata-kata lagi. Aku tak dapat mengatakan sesuatu kepadanya karena diriku sendiri harus mengendapkan gejolak hati melepas dirinya dari Eden.


Obrolanku dengan Mas Aar
Sampailah pada hari Jumat pagi (16/8). Aku menelepon ke Pasar Minggu untuk mencari Lala perihal perekaman yang harus kulakukan kembali karena ada tambahan pada teks yang harus kubaca. Dan kebetulan sekali, Mas Aar yang mengangkat teleponnya.

Aku pun menanyakan kabarnya dan apa yang sedang dilakukannya saat ini. Mas Aar menjawab bahwa dirinya saat ini sedang berpikir sambil berjaga-jaga agar waspada supaya setiap pilihan dan langkah serta pekerjaan yang dilakukannya tak membuat dirinya semakin jauh terlepas dari Eden setelah dirinya dikeluarkan. Aku berbahagia mendapatkan jawaban demikian dari dirinya. Semoga Tuhan membukakan mata hatinya sehingga dia lebih awas terhadap segala pilihannya. Karena pada saat ini, setelah dia dikeluarkan, dia memiliki kebebasan untuk bekerja maupun mengerjakan apapun yang ingin dilakukannya. Tak ada lagi peraturan yang mengikatnya sebagaimana pada saat dia masih berada di Eden.

Menghadapkan Kebenaran yang Dipahami kepada Tuhan

Kemudian Mas Aar juga menyampaikan bahwa betapapun dirinya merasa terkejut mendengar judgment dari Ayah atau Bunda kepadanya, karena Mas Aar merasa bahwa apa-apa yang telah dilakukannya selama ini tak ada yang lain kecuali untuk menjaga agar kejernihan tauhidnya tetap terpelihara dan terjaga sehingga pengabdian dan pekerjaannya selaras dengan keutuhan ketauhidan yang jernih. Maka ia tidak menduga bahwa judgment yang diterimanya justru sebaliknya di mana dinyatakan bahwa Mas Aar dianggap telah melakukan penyekutuan terhadap Tuhan dan melawan apa-apa yang menjadi Kehendak Tuhan. “Penghakiman itu sangat berat bagiku.” ucapnya.

Aku sungguh dapat mengerti atas apa-apa yang dinyatakan Mas Aar kepadaku. Karena sesungguhnya, problem dan pergulatan yang dialaminya tak jauh berbeda dengan pergulatan yang kurasakan. “Saya sesungguhnya dapat merasakan apa yang Anda rasakan dan apa yang Anda utarakan, karena Anda sebenarnya memilih kebenaran yang Anda pahami dan yang Anda mengerti. Dan Anda sangat sulit untuk berada dalam kebenaran yang Anda tak dapat memahaminya,” ucapku.

“Tetapi persoalannya adalah, Anda sedang berhadapan dengan Kebenaran Tuhan yang sedang menyejarah kembali, sebuah kebenaran yang tak terhingga. Dan saat Anda berada di dalamnya bersama-Nya, dan saat Anda memilih kebenaran yang Anda pahami, Anda berhadap-hadapan secara langsung dengan kebenaran yang diturunkan Tuhan. Saya mencoba memahami penghakiman terhadap Anda tetapi sekaligus juga memahami posisi Anda.” lanjutku kemudian.

Dalam kesempatan itu, aku menyatakan kepada Mas Aar bahwa memang kita harus memahami dengan benar atas apa-apa yang sedang kita jalani dan ikuti, sebagaimana hal itu pun tertulis di dalam Al Quran. Karena segala sesuatu yang menjadi pilihan kita, Tuhan niscaya akan meminta pertanggungjawabannya.

Tetapi bila kita terpaku dengan doktrin itu, maka sulit bagi kita untuk meluruhkan diri kita kepada sebuah kebenaran yang tak terhingga karena kita masih selalu berada dalam kebenaran yang kita pahami. Padahal, dalam Kehendak Tuhan yang menyejarah, seringkali Dia menjadikan para Utusan-Nya itu berada dalam dilema-dilema yang sangat berat untuk menguji adakah dia luruh dalam kehendak Tuhannya atau dia memilih kebenaran yang dipahaminya. “Ya, aku memang harus membebaskan diri dari segala kategori yang masih tetap saja mengendap dalam diriku,” ucap Mas Aar menanggapi penjelasanku.

Dalam obrolan singkatku itu, aku pun mencoba untuk menyampaikan kepada Mas Aar agar senantiasa teringat bahwa betapa tipisnya batasan antara mempertahankan kebenaran yang diyakini dengan keakuan yang sedang dihadapkan kepada Tuhan. Dan tipisnya batasan itu dapat memiliki konsekuensi yang sangat besar sebagaimana iblis yang dikeluarkan dari Surga karena tidak patuh kepada Tuhan diakibatkan keakuannya terhadap kebenaran yang dihadapkan kepada Tuhannya.  


Orang Baik dan Orang Suci
Aku melihat sepertinya kendala yang ada pada diri Mas Aar adalah bagaimana kebenaran yang diturunkan Tuhan ini menjadi sebuah kebenaran yang dapat dipahami dan dihikmati oleh orang kebanyakan. Karena Pernyataan-pernyataan Tuhan yang saat ini cukup keras dirasakan sulit diikuti oleh orang-orang yang membacanya. Maka aku mencoba membagi sebuah kisah dari sebuah acara di televisi mengenai dialog yang terjadi antara seorang biarawati dan seorang dokter yang memiliki pemikiran yang rasional.

Biarawati itu mengutarakan kepada dokter yang rasional itu bahwa orang baik itu banyak, tapi orang suci di zaman ini hampir tak ada. Kalaupun ada, niscaya dianggap gila. Namun dari diri orang suci itulah lahir Mukjizat-mukjizat Tuhan. Karena dia menjadi peraga Ilahi yang terkadang dan seringkali sulit untuk dipahami manusia pada zamannya.

Kalau seseorang ingin dapat memahami kebenaran orang lain, memang itulah tugas seorang yang baik. Namun orang yang suci biasanya memiliki kebenaran yang tidak mudah dipahami sehingga karena kebenarannya itu ia dianggap sebagai orang gila. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa kebenaran yang sedang dibawakan oleh Ruhul Kudus di Eden adalah kebenaran-kebenaran yang sulit dipahami, namun melalui itulah hakikat kesucian selalu diupayakan untuk diraih.


Berkomunikasi dengan Tuhan

Betapapun, dapat memahami apa yang sedang dialami oleh Mas Aar. Namun aku pun juga dapat memahami keputusan Ruhul Kudus yang mengeluarkan Mas Aar dari Eden dan argumentasi yang terungkap di belakangnya.

Dalam kesempatan itu, aku juga mengingatkan kepada Mas Aar dan kepada diriku sendiri bahwa di dalam kita bekerja menjalankan Amanat Tuhan, jarang sekali kita mengkomunikasikan segala kesulitan atau kendala di hati kita langsung kepada Tuhan. Setelah kita menanggalkan pekerjaan, keluarga, orang-orang yang kita cintai dan kita memilih Eden sebagai pengabdian kita kepada Tuhan dan mengutamakannya, seakan semua pekerjaan yang kita lakukan kemudian niscaya untuk Tuhan semata. Padahal niscaya tidaklah sepenuhnya demikian apabila kita tidak mengkomunikasikan segala urusan dan kendala itu kepada Tuhan. Semua pekerjaan itu seakan menjadi hambar dan gamang sehingga keluh kesah atau kesulitan itu lebih sering kita sampaikan kepada suami, istri atau teman dan sahabat kita daripada kepada Tuhan sendiri.

Sesungguhnya, dengan terjadinya dialog yang intensif dengan Tuhan dan menyampaikan segala kendala maupun kesulitan yang menjadi ganjalan di hati kita, niscaya hal itu dapat meluruhkan segala kesulitan. Dan semoga Tuhan memberikan solusi dan jawaban sehingga kita dapat mengambil hikmah yang besar di baliknya segala kendala dan kesulitan itu.


Kisah Iblis dan Keakuannya

Syahdan, iblis itu dikeluarkan dari Surga bukan karena kejahatannya, bukan pula karena ketidaksetiaannya kepada Tuhannya, tetapi dia menghadapkan kebenarannya dengan kebenaran Tuhan yang sedang bertitah. Bahkan, beberapa kalangan sufi sebagaimana Ibnu Arabi misalnya menyatakan betapa iblis itu adalah makhluk Tuhan yang sangat murni menjaga penyembahan ketauhidannya kepada Tuhan karena dia tak mau bersujud kepada makhluk yang diperintahkan Tuhan kepadanya untuk dia sujudi. Namun iblis telah meng-aku-kan kebenaran dirinya dan kebenaran pilihannya untuk tidak bersujud kepada makhluk yang diperintahkan Tuhan untuk disujudinya.

Syahdan pula, dikisahkan bahwa dahulunya iblis itu adalah makhluk Tuhan yang paling mulia dan yang terdekat hubungannya dengan Tuhan karena pengabdiannya dan kesetiaannya kepada Tuhan. Dan sesungguhnya tiadalah makhluk yang terdekat dengan Tuhan itu melainkan para malaikat-Nya yang menjadi Perintah-Nya.

Dan terkisahkan tidak hanya satu ayat di dalam kitab suci Al Quran bahwa saat Tuhan menciptakan Adam, maka Tuhan memerintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Dan di antara para malaikat, ternyata ada yang membangkang. Demikianlah para pembangkang itulah yang kemudian disebut sebagai iblis (pembangkang) oleh karena dia meng-aku-kan dirinya dan kebenarannya. Padahal tiadalah setitik kesombongan itu diperkenankan. Dan tiadalah kesombongan itu dibenarkan oleh Tuhan. Maka tersebutlah kisah sebagaimana dalam Injil mengenai saat di mana para malaikat dilempar Tuhan ke bumi.

Sesungguhnya, kisah iblis yang termaktub di dalam Kitab Suci Al Quran maupun Injil ini adalah sebuah kisah yang memberikan tanda tanya besar bagi manusia dahulu, kini, maupun mungkin yang akan datang, yaitu sebuah pertanyaan tentang Keadilan Tuhan kepada seluruh makhluk-Nya, terutama dalam kejahatan dan kebaikan, adakah dia dari yang satu juga adanya. Sungguh sebuah pertanyaan yang tak pernah terjawab, yang tak mudah untuk diuraikan dan dipahami tapi telah menjadi sebuah doktrin yang harus diimani, terutama menyangkut soal Tuhan dengan Keadilan-Nya.

Tetapi, saat Tuhan menurunkan Penjelasan-Nya, saat Tuhan menurunkan Ruhul Kudus dan menjelaskan regulasi ruh, maka menjadilah kita mafhum akan Keadilan-Nya, karena sesungguhnya semua ciptaan-Nya mengalami perguliran dan rotasi yang siklikal. Bagaikan roda atau bagaikan jarum jam, gelap dan terang itu silih berganti dan dipertukarkan. Demikianlah Keadilan Tuhan dan demikian pula kita dapat melihat bagaimana sesungguhnya dan bagaimana penjelasan regulasi itu membuat kita dapat memahami mengenai kejatuhan dan kenaikan iblis, kejatuhan dan kenaikan malaikat, maupun kejatuhan dan kenaikan manusia.

Oleh karena itu, marilah kita jadikan kisah kejatuhan iblis itu sebagai pelajaran agar kita berhati-hati meniti jalan yang terjal dan licin di dalam Takdir-Nya ini. Karena sesungguhnya, saat ini kita sedang berada dalam ujian dan titian yang sangat licin dan tipis, karena pilihan yang terhadirkan itu bukanlah pilihan yang sangat jelas sebagaimana pilihan antara hitam dan putih. Sungguh saat ini kita semua berada dalam ujian yang sama. Semoga kita tidak salah dalam mengambil pilihan dan melangkah. Karena sesungguhnya pilihan yang salah tersebut dapat membuat kita terlempar sangat jauh dan kita tidak pernah mengira bahwa kita sedang berada dalam posisi yang sangat jauh dari sisi terang Ilahiah itu.

Maka, adalah lebih baik bagi kita agar senantiasa dapat meluruhkan diri sehingga tak ada lagi yang lain kecuali keimanan terhadap kebenaran yang tak terhingga itu, walau kita sendiri belum dapat memahami wujud yang sebenarnya dari kebenaran yang tak terhingga itu. Walaupun demikian, marilah kita tetap berusaha memantapkan hati untuk senantiasa bertaat dan berserah diri secara utuh untuk menanggalkan segala kebenaran keyakinan yang kita pahami dan kita yakini sehingga dapat meluruhkan kepada kebenaran yang tengah diturunkan-Nya saja.

Semoga Tuhan senantiasa menguatkan kita semua di dalam meniti setiap ketetapan yang diturunkan-Nya di dalam Takdir-Nya. Dan yang terpenting, semoga Tuhan berkenan meluruhkan setiap kebenaran yang kita yakini dengan kebenaran yang sedang diturunkan-Nya. Karena sungguh kita tidak pernah mengetahui konsekuensi apa yang akan kita terima bila kita sempat meng-aku-kan atau menghadapkan kebenaran yang kita yakini kepada Tuhan. Sebagaimana iblis yang mengedepankan kebenarannya di hadapan Tuhan yang memerintahkannya agar bersujud kepada Adam, mungkin tidak diketahuinya bahwa konsekuensi pembangkangan atas Perintah Tuhan tersebut adalah dikeluarkan dari Surga dan menjadi makhluk yang terkutuk. Betapapun dalam keterkutukannya, iblis tetap adalah makhluk yang sangat taat kepada Tuhan, setaat malaikat dalam perannya yang bersebelahan.  

Semoga Tuhan melapangkan jalan kita dan membukakan hikmah yang besar demi perbaikan serta keselamatan bagi kita. Dan semoga menetapkan dan mengukuhkan sumpah kita sehingga kita tetap berada dalam terang dalam perguliran rotasi kehidupan Semesta-Nya. Amin.
 
< Prev

YM M. Abdul Rachman

YM Muhammad Abdul Rachman



Eden Terbaru

         Terbaru!!   

    Puisi
    Diari
    Refleksi
    Artikel
    Cerita
    Persepsi
    Hikmah
    Quote
    Berita Eden