|
Tergopoh-gopoh aku merapikan beberapa pakaianku, karena tiba-tiba saja seorang penyidik polisi memerintahkan agar aku tak lagi berada di sel atas, tapi masuk ke sel bawah dengan para tahanan yang lain. Betapapun aku tak dapat menyembunyikan perasaan takutku. Karena berita yang sampai padaku, setiap ‘anak kijang’ yang baru masuk itu selalu mendapat ‘pelajaran’. Dan pukulan fisik adalah suatu hal yang biasa di dalam tahanan. Tapi aku berserah diri kepada Tuhan. Bila memang aku harus mengalami pukulan itu, niscaya itu adalah karmaku.
Setibanya di sel bawah, aku bertemu dengan dua polisi penjaga yang berbadan besar dan hitam. Aku diperintahkan untuk jongkok dan tidak boleh berdiri sama sekali bersama dengan para tahanan lain yang akan ditahan di sel bawah. Kukira aku akan disatukan bersama teman-temanku yang turun bersamaan. Ternyata tidak, karena mereka semua sudah ‘dititipkan’ dan langsung menuju selnya masing-masing.
Karena penasaran, aku bertanya kepada sesama tahanan yang sedang berjongkok bersamaku. Saat itu pula aku langsung dibentak oleh salah seorang polisi penjaga berbadan besar dan hitam yang menjaga tahanan bawah. “Gua gibeng loe!” teriaknya dengan suara yang sangat keras.
Tidak hanya dibentak dan disuruh jongkok, seluruh baju dan celana yang kubawa dan sudah kurapikan diambil semua olehnya. Ternyata aku tidak boleh membawa apapun kecuali baju tahanan yang sudah disediakan. Betul-betul aku hanya boleh memakai pakaian yang melekat pada diriku saat itu. “Wah, benar-benar aku mengalami keadaan seperti yang diceritakan,” pikirku.
Melihat satu persatu tahanan yang diturunkan mulai ditempatkan di selnya masing-masing, aku berharap salah satu dari mereka berada satu sel bersamaku. Ternyata tidak. Aku disatukan di dalam sel dengan para tahanan yang terlibat kriminal, penjudi dan pelaku sodomi
“Itu kijang baru sandalnya bagus tuh!” teriak seorang tahanan yang melihat sandalku, yang memang cukup bagus untuk lingkungan tahanan, ketika menuju selku. Tiba-tiba, “Nggak ada yang boleh ngambil!” Teriakan itu berasal dari palkam, kepala kamarku yang kemudian menjadi sangat dekat dan melindungiku setelah mengetahui aku juga berasal dari Cengkareng sebagaimana dirinya.
Bersahabat dengan Para Polisi
Di dalam sel baruku, aku menyalami teman-teman satu selku dan memperkenalkan namaku. Belum hilang rasa dag dig dugku, tiba-tiba seorang berperawakan besar memanggilku dari luar sel. “Kasus apa kamu?” tanyanya.
“Kasus keyakinan,” jawabku.
“Keyakinan apa?”
“Lia Eden.” Aku sebetulnya gemetaran menjawabnya.
“Oh, Lia Eden. Yang ngaku Malaikat Jibril terus siapanya itu Nabi Muhammad yang sudah hidup?” Mendengar nama Nabi Muhammad disebutkan, hatiku lebih takut lagi. Karena yang dimaksud dia itu kan aku.
Kemudian datang pula beberapa orang yang juga tinggi besar dan menimpali ucapan-ucapan kami. Aku hanya berusaha untuk tetap terlihat tegar dalam menjawab dan mendengarkan mereka, walaupun hatiku terasa ciut.
Ternyata, di antara orang-orang yang berbadan tegap itu adalah orang-orang yang cukup berwawasan dan mengerti soal hukum. Belakangan kuketahui bahwa mereka adalah para polisi yang sedang dihukum karena kasus pemerasan.
Sudut pandangku tentang polisi yang dikenal suka memeras para tahanan cukup berubah setelah mendengar kisah-kisah yang diceritakan oleh sesama tahanan yang juga polisi itu. Ternyata, tidak semuanya kesalahan polisi, tapi masyarakat kitalah yang juga cukup berperan membentuk mereka menjadi demikian. Karena dari para tahanan itulah kuketahui hampir semua mereka menyuap demi mendapatkan keringanan dan kemudahan. Sementara polisi menanggapinya dengan cara memperingan atau memudahkan para tahanan sebagai bentuk pertolongan terhadap mereka yang sedang di dalam kesulitan, disamping ada uang jasa yang memang mereka sangat inginkan.
Mukjizat Pengobatan yang Memudahkan Jalan
Hari demi hari, jam demi jam, baik siang maupun malam, untuk mengisi waktu luang yang senantiasa kosong itu, mereka selalu berbincang-bincang, berdiskusi denganku soal-soal keagamaan, sampai mereka paham apa itu Eden. Dan akhirnya, mereka pun meminta agar aku menerapi mereka bila mereka sakit.
Ternyata, pengobatan adalah salah satu jalan kemudahan yang dibukakan Tuhan yang mendekatkanku baik dengan para tahanan maupun polisi yang menjaga sel. Dan itu pun membuat para tahanan lain turut menjadi sungkan.
Sipir penjara yang berbadan besar dan hitam yang memarahiku waktu pertama kali aku datang, sesekali melihat aku berdiskusi. Kemudian dia pun ikut nimbrung dalam diskusi kecil kami. Lama-kelamaan, aku pun menjadi bersahabat baik dengan para polisi yang menjaga sel di Polres Jakarta Pusat ini. Kemudahan yang dihadirkan Tuhan ini membuatku terbebas dari uang-uang ‘siluman’ yang suka dimintai para penjaga kepada para tahanan, dimana sebelumnya aku pun harus bersitegang dengan para petugas karena tidak mau membayar uang tersebut.
Pada awal kedatanganku ke tahanan bawah Polres Jakarta Pusat, sesekali aku harus bersitegang dengan para tamping pemegang kunci dan polisi yang menjaga karena aku tidak ingin membayar uang kunci pada saat besukan. Suatu kali, seorang tamping pernah melaporkanku pada polisi yang bertugas bahwa aku tak ingin membayar uang besukan. Dan polisi itu pun menghampiriku di dalam sel dan menegurku, “Mengapa tidak mau membayar uang besukan?”
“Aku dilarang membayar uang yang tak resmi,” jawabku.
“Siapa yang melarang Anda?”
“Tuhan yang melarang saya melakukan hal itu.”
Sambil menggerutu, polisi itu meninggalkanku dan berkata, “Di sini, seharusnya Anda bermasyarakat.”
Kesadaran yang Tersibak dari Balik Teralis
Secara spiritual, kesadaran itu memang tersibak saat penderitaan itu datang. Saat penderitaan itu dihikmati sebagaimana para polisi yang ditahan, mereka merasakan bagaimana tidak enaknya berada di dalam sel tahanan. Dalam obrolan kami, mereka mengatakan bahwa sudah berapa puluh dan berapa ratus orang yang telah mereka masukkan ke dalam sel tahanan tanpa dia merasa apa yang telah dilakukannya membuat orang lain menderita. Kini, dia sedang merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang pernah dijebloskannya ke dalam sel. Dan di dalam perenungannya, di antara mereka ada yang berkata, “Lebih baik melepaskan seratus penjahat daripada menangkap seorang yang tak bersalah.”
Sebuah kesombongan, sebuah keakuan, sebuah kegagahan, ternyata luruh di balik teralis saat kesadaran itu tersibak. Penjara memang dapat memenjarakan bagi mereka yang menemukan pencerahan dan pelajaran di dalam dirinya, tapi penjara takkan pernah memenjarakan bagi mereka yang tak pernah mendapatkan pencerahan, karena mereka tak dapat melihat hikmah dan pelajaran terhadap apa-apa yang dialaminya di dalam penjara.
Sungguh kupanjatkan rasa syukurku kepada Tuhan karena aku telah dipertemukan dengan para tahanan maupun polisi baik yang ditahan maupun yang menjaga sel. Dari pengalamanku, aku melihat bahwa apakah seseorang itu memakai seragam polisi atau seragam tahanan, ketika saling membuka hati dan berbicara dari hati ke hati untuk saling mengenal dan memahami, maka sungguh mereka semua adalah saudaraku. Maka tegur dan sapalah mereka dan kenalilah, karena sesungguhnya kita semua bersaudara.
Bagaimana dengan penjaga polisi yang berbadan besar dan hitam serta paling galak yang membentakku saat aku pertama kali datang ke tahanan bawah Polres Jakarta Pusat? Belakangan, beliau menjadi sahabat yang paling baik setelah mengetahui kondisiku yang sesungguhnya.
|