|
"Lia Eden-lah Ratu Adil. Jibril-lah Satrio Piningit itu. Sudilah melihat pernyataan ini sebagai penggenapan nubuah akhir zaman."

Wahai Ratu Adil, Kapankah kau datang tempatmu telah lama menunggu Wahai Ratu Adil, Segeralah kau datang, banyak ular, banyak janji
Sudah lama tak ada kebenaran Sudah bosan tertipu dan dijarah Mauku ada Ratu Adil turun dari langit
Maria-kah, Ruhul Kudus, atau Ratu Adil-kah kamu? Alangkah jauhnya kemenangan kebenaran Adakah Surga itu? Di manakah Surga?
Wahai Ratu Adil, Adakah kau datang dari Surga atau kau ada di bumi ini? Wahai Ratu Adil, wahai Ruhul Kudus datanglah untuk kami di sini
Namamu telah lama disebutkan Kami ingin menyambutmu
Wahai Malaikat Jibril, ajak turun Ratu Adil Aku mau berjihad melawan kejahatan bersamanya Pertemukan aku dengan Ratu Adil
Jangan melihat aku seperti itu Aku menunggu Ratu Adil Maria, Lia atau Ratu Adil ada di sini Akan kubawa turun menemuimu
Oh langit, oh awan, turunkan mereka Oh bulan, oh matahari, oh bintang, temani mereka Oh hujan, oh badai, oh banjir
Sudahkah kamu mengingatkan umat manusia Itulah tanda Allah menurunkan mereka
Oh bumi yang tandus, Oh keserakahan dan pengingkaran Itulah dosa umat manusia yang ingin diingatkan mereka Maukah engkau ke matahari bersamaku Melihat Lia, sang Ratu Adil Menyulut Pelita, menurunkan tangga Ingin menapak ke dunia
Wahai Malaikat Jibril, Adakah kau turun bersamanya Aku di sini, mereka di sini Maha Suci Tuhan, puji syukur Tuhan Maha Esa Dia Yang Maha Besar
Juru selamat datang Juru selamat datang Selamat datang
(Mahoni, 1998) |