|
Ditulis oleh Akhbar
|
|
Dipaparkan jatidiri apel Buah yang masih pentil Tentu berbeda rasa Dengan yang ranum sempurna Demikian kisah rasa Tergantung tingkat kondisi berada
|
|
|
Ditulis oleh Redaksi
|
|
Mahluk akhirat adalah malaikat Cahaya adalah hakikat malaikat Kebajikan/kebenaran itu adalah esensi kehidupan malaikat
|
|
|
Ditulis oleh Dunuk
|
|
Sebuah Kado Ulang Tahun untuk Yanthi Sulistiono Yang Tercinta IV* Adakah masih sakit dadamu di balik rona ceria wajahmu, Sayang? Lunasnya pembayaran hutang ruh sedang ditagihkan Tuhan kepadamu Tak kau mengerti itu karena langkahmu yang terjaga dalam kesucian Namun keyakinanmu bahwa Tuhan yang menggenggam masa depan dan pula masa lalumu |
|
|
Ditulis oleh Akhbar
|
|
Wahai anak-anakku Bermainlah... Karena itulah duniamu Di sana pula Surgamu
Bekerja dan mengabdilah kepada-Nya Di waktu main-mainmu Karena itulah syariatmu
Berterima kasihlah selalu kepada-Nya Di waktu main-mainmu Karena itulah bekalmu
Bermainlah... bersama-Nya Di waktu main-mainmu Karena Ia-lah temanmu
Wahai Yang Maha Kasih Sayang Peliharalah anakku Temui dan ajari sepanjang hidupnya Agar mereka tumbuh seperti kehendak-Mu
|
|
|
Ditulis oleh Akhbar
|
|
Aku bertanya? Saat aku tahu jawaban Aku menanti? Saat aku telah sampai Aku mencari? Saat aku telah bertemu? Aku meminta? Saat aku telah cukup |
|
|
Ditulis oleh Akhbar
|
|
Berkelok-kelok itu pasti ada yang ke kiri dan ke kanan Namun bila lurus takkan pernah menemuimu baik kiri maupun kanan Itulah hendaknya ditempuh singkat, cepat, dan ringan Lakukanlah bila ingin menemui-Nya |
|
|
Ditulis oleh Akhbar
|
|
Bila engkau ingin terbang maka ringankanlah bebanmu terlebih bila tak ada beban sedikit pun
Bisakah? Tentu saja!
Karena Aku hanya melihat pada keikhlasanmu ikhlas itu tak melekat dalam tubuh Niscaya di hati suci ia bersemayam Kau tak perlu terbang karena Aku ada di setiap hati suci |
|
|
Ditulis oleh Akhbar
|
|
Seperti aku ingin makan namun aku tak mencari makan Aku bekerja melakukan sesuatu kupenuhi niatku pada-Nya dengan kehendak-Nya aku makan |
|
|
Ditulis oleh Akhbar
|
|
Karena aku ini lemah anggapanku memang aku lemah lemah tak berdaya upaya |
|
|
Ditulis oleh Akhbar
|
|
Jadilah air agar sampai tujuan kemanapun yang dituju Bila tidak ada tujuan dimanapun ia berguna
|
|
|
Ditulis oleh Akhbar
|
|
Jadilah pohon yang berbuah lebat tak mengenal musim menyenangkan bagi siapapun
Bilakah aku seperti itu? Bila engkau minimal selalu berdoa untuk siapapun dan di manapun Niscaya itulah buahmu |
|
|
Ditulis oleh Akhbar
|
|
Karena aku cinta mutlak karena aku taat mutlak karena aku setia mutlak kepada-Nya |
|
|
Ditulis oleh Akhbar
|
|
Pertama sekali Aku harus belajar bisu Aku harus belajar buta Aku harus belajar tuli Ketika Tuhan menegur |
|
|
Ditulis oleh Akhbar
|
|
Aku tak peduli Dihinakan Dijelekkan Digunjingkan Dikucilkan Dijauhi Dimusuhi Dan disesatkan Ketika aku hidup |
|
|
Ditulis oleh Akhbar
|
|
Saat hidupku tegak dalam kebenaran-Nya Aku tak kecewa |
|
|
Ditulis oleh Akhbar
|
|
Sesungguhnya Aku Tak akan melihat bentukmu Melainkan Aku Akan melihat hatimu |
|
|
Ditulis oleh Tutik
|
|
Malam itu hujan tiada henti Deras seperti air mata Bila mengenang bencana tiada henti |
|
|
Ditulis oleh Agus
|
|
Derita yang kualami telah berlalu Tinggalkan anak isteri demi Tuhan Walau air mata terurai sampai kering Tangis anakku yang memecah kesunyian |
|
|
Ditulis oleh Arif
|
|
Dari mana datangnya iman Bila agama diselingkuhi oleh keakuan Dari mana datangnya persahabatan Bila hati tertutup oleh prasangka dan kecurigaan Dari mana datangnya persaudaraan antar iman Bila kebenaran iman telah diegokan |
|
|
Ditulis oleh Arif
|
|
Mana kutahu, bila semua yang kutahu Ternyata tak sama dengan yang kau tahu Mana kutahu, bila apa yang kutahu Ternyata tak masuk akal menurutmu |
|
|
Ditulis oleh Arif
|
|
Kuyakin pelangi di atas sana Tak pernah menganggap dirinya makhluk terindah Tapi, adakah yang tak mengaguminya Kala ia menampakkan dirinya |
|
|
Ditulis oleh Arif
|
|
Ke mana pun aku pergi Di mana pun aku berada Dosa-dosa itu, seakan tak pernah mau beranjak menjauhiku |
|
|
Ditulis oleh Arif
|
|
Sunyi senyap malamku Gelap gulita, hening dan hambar kalbuku Seandainya tak ada gelora Surgawi dalam syair-Mu Seandainya tak ada puisi-puisi-Mu |
|
|
Ditulis oleh Arif
|
|
Takutku pada dosa, mungkin tak sebesar takutku pada hukuman-Mu Tapi takutku pada dosa, Semoga dapat menyelamatkanku dari hukuman-Mu |
|
|
Ditulis oleh Arif
|
|
Terbaca beribu-ribu lantunan syair Ilahi Nan tersurat dalam lembaran-lembaran suci Memuat janji-janji Surgawi |
|
|
Ditulis oleh Arif
|
|
Bila aku tak ikhlas pada-Mu Maka Engkau pun tak ikhlas padaku Dan semua rahmat pun berhenti mengalir bagiku Lalu aku pun merana akibat ketidakikhlasanku |
|
|
Ditulis oleh Arif
|
|
Bermilyar manusia Beribu suku bangsa dan budaya Seberapa banyak kepala manusia Sebanyak itu pula perbedaan yang ada Seberapa banyak hati manusia yang ada Sebanyak itu pula keinginan dan cita-citanya |
|
|
Ditulis oleh Arif
|
|
Kutahu, kita memang berbeda Kutahu, sifat dan keinginan kita pun berbeda Kutahu, cita-cita dan impian kita juga berbeda |
|
|
Ditulis oleh Arif
|
|
Senyum tulus dan air muka nan teduh Jabat tangan penuh damai dan pelukan mesra |
|
|
Ditulis oleh Etty
|
|
Seperti gemuruh ombak kala iblis menyeruak seperti mendung yang tebal di atas Kerajaan Tuhan caci maki terus dilontarkan kebenaran takkan tergoyahkan senyum keramahan terpancar dalam rumah Tuhan kidung-kidung surga terus dinyanyikan |
|